Sering Kesemutan? Waspada Kerusakan Sistem Saraf Tepi

Ilustrasi pergelangan tangan(Pixabay)
VIVA.co.id – Jakarta Neurology Exhibition Workshop and Symposium (Jaknews) 2017 yang mengusung tema besar tahun ini Bergerak Bersama #Lawan Neuropati, menggelar berbagai acara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai neuropati. 

Puncak acara ini sendiri adalah digelarnya fun walk dan Neuromove bersama pada 26 Maret 2017, yang akan diikuti lebih dari 5.000 orang. Terdiri dokter saraf, pasien neuropati, berbagai komunitas kesehatan. 

Mengapa neuropati menjadi begitu penting dan digaungkan di mana-mana? Itu karena neuropati adalah kerusakan sel saraf tepi, kerusakan pada bagian dalam tubuh inilah yang kerap diabaikan. Padahal, support system dalam hidup sangat penting. Support system dalam tubuh, menjaga sistem saraf. 

“Sistem saraf merupakan sistem di dalam tubuh manusia yang terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Saraf tepi berfungsi sebagai penghubung antara saraf pusat dengan seluruh organ tubuh. Apabila ini mengalami kerusakan, maka akan muncul gejala seperti kesemutan, kebas, kram, kelemahan otot. Kondisi inilah yang disebut neuropati,” kata dr. Manfaluthy Hakim, SpS(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat, dalam acara Bergerak Bersama #LawanNeuropati,di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Banyak orang tidak menyadari dampak dari neuropati jika tidak segera diobati. Dari yang awalnya mengalami penurunan kualitas hidup, seperti penurunan kekuatan motorik, penurunan sensasi rasa sehingga mudah terluka, impotensi, depresi, penurunan berat badan, hingga pada tahap yang disebut point of no return.

“Saraf bisa melakukan regenerasi, kalau belum hancur total. Karena itu ada sebutan point of no return, kalau sudah seperti ini pasien terima apa adanya. Ini kalau kehilangan serabut saraf lebih dari 50 persen,” katanya. 

Sehingga pencegahan dan pengobatan dini neuropati sangat penting untuk dilakukan, mengingat kerusakan saraf akan bersifat irreversible bila kehilangan serabut saraf di atas 50 persen. 

Salah satu pasien neuropati yang hadir dalam acara ini juga memberikan testimoni, sekaligus pesan pada semua orang, agar sedini mungkin menyadari kondisi saraf, dan melakukan deteksi dini.

“Yang dirasakan awalnya sering kesemutan, kalau bekerja terasa kesemutan, hanya turunkan tangan, kibas sebentar, kerja lagi, hilang, naik sepeda juga kadang kesemutan turunkan sebentar, hilang,” ujar Ibu Sri Wahyuningsih. 

“Setelah pensiun tidak banyak kegiatan, mulai terasa, ujung jari kesemutan, kesemutan agak tebal. Tapi masih terasa untuk meraba, cuma agak tebal, setelah dicek CTS (Carpal Tunnel Syndrome). Seandainya saya melakukan deteksi dini, tentunya kondisi saraf saya akan lebih baik,” kata ibu yang mengalami CTS di kedua tangannya ini. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *