Mengintip Cahaya Ramadan di Tambang Bawah Tanah Freeport

Karyawan PT Freeport Indonesia salat Tarawih 1.700 Meter di bawah tanah.
VIVA– Bulan suci Ramadan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam se-antero dunia, tak terkecuali bagi karyawan Freeport Indonesia di Papua, yang bekerja di tambang bawah tanah.

Meskipun harus bekerja keras ratusan meter di bawah permukaan tanah, para karyawan di tambang bawah tanah Freeport Indonesia tidak melewatkan momen beribadah puasa di bulan Ramadan.

Di tambang yang beroperasi 24 jam setiap hari ini, aktivitas saat Ramadan berjalan seperti hari-hari lainnya. Hanya saja pembeda utamanya adalah saat waktu berbuka puasa akan tiba.

Para karyawan yang melaksanakan ibadah puasa menghentikan aktivitasnya sementara untuk berbuka puasa. Suasana berbuka puasa pun selayaknya berbuka puasa di banyak tempat lainnya di Indonesia.

Beberapa waktu menjelang berbuka puasa, para karyawan yang melaksanakan ibadah puasa berkumpul di sekeliling hidangan yang telah disediakan. Dari situ kehangatan terpancar dari wajah para karyawan yang seharian ada di dalam perut bumi tersebut.

Menjelang buka puasa, karyawan Muslim sudah berkumpul di masjid yang ada di tambang bawah tanah untuk ngabuburit menanti magrib untuk berbuka puasa. Para karyawan pun berbuka puasa dengan minuman, kurma dan berbagai penganan lain.

Karyawan Departemen Konstruksi Tambang Deep Mill Level Zone PT Freeport Indoonesia, Tegus Supriyatno menuturkan, bekerja di tambang bawah tanah tidak menghambatnya untuk tetap beribadah puasa tahun ini.

Menurutnya, bekerja keras di bulan puasa justru menjadi penyemangat karyawan untuk mencari nafkah yang baik di Ramadan. Terlebih, nilainya lebih tinggi dihadapan Allah SWT.

“Jadi, selama Ramadan semua aktivitas dan pekerjaan tetap berjalan seperti hari biasa, dan keselamatan tetap hal yang paling diutamakan,” tegas Teguh dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu 13 Juni 2018.

Dia menjelaskan bahwa perusahaan tempatnya bekerja itu memperhatikan sampai hal-hal terkecil seperti persiapan berbuka puasa. Tiap karyawan yang berpuasa didata, agar ketika waktu berbuka datang karyawan tersebut bisa untuk sementara menghentikan aktivitasnya dan berbuka puasa.

“Berbuka bersama dalam suasana seperti ini terasa unik. Karena bagaimana pun kami ada ratusan meter dari permukaan tanah. Kesempatan untuk tetap bisa bekerja sekaligus menjalankan ibadah adalah sesuatu yang patut kami syukuri,” ujar Teguh.

“Berpuasa dan bekerja di bawah tanah ini menguatkan rasa senasib sepenanggungan di antara kami para karyawan yang harus jauh dari keluarga di bulan suci Ramadan namun tetap mendapatkan kesempatan untuk beribadah bersama terasa begitu nikmat,” tambah Teguh.

Sementara itu, Foreman DMLZ Chute Construction PT Freeport Indonesia, Apollo Sirait, menerangkan bahwa puasa tidak menjadi penghambat bagi para karyawan untuk tetap bekerja dengan efisien dan produktif.

Menurutnya, bekerja di tambang bawah tanah sekalipun melelahkan tidak membuat para karyawan untuk melepaskan ibadah puasanya.

“Berbuka puasa di jobsite ini, baik di tambang permukaan maupun tambang bawah tanah sudah menjadi tradisi di Freeport Indonesia. Toleransi sangat dijunjung tinggi di mana karyawan yang tidak berpuasa menghargai dan menghormati sesama karyawan lain yang sedang berpuasa. Dalam pekerjaan, saling back-up, komunikasi dan koordinasi tetap terjaga baik,” ujarnya.

Sirait menambahkan, selain menyediakan makanan untuk berbuka puasa di tambang bawah tanah, Freeport Indonesia juga menyiapkan tempat untuk salat tarawih berjamaah bagi para karyawan yaitu di Masjid Baabul Munawar yang berada di deep mile level zone.

Masjid ini sendiri pada 2017 mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia sebagai masjid dengan lokasi terdalam dari permukaan tanah yaitu 1.700 meter di bawah permukaan tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *