Petani dan Peternak Bentrok di Nigeria, 86 Tewas

Nigeria sudah lama menyaksikan kekerasan antara suku Berom yang bertani dan suku Fulani, yang merupakan peternak yang nomaden. (Foto: Arsip dan bukan kekerasan terbaru) – AFP/Getty Images
Sedikitnya 86 orang tewas di Nigeria akibat bentrokan komunal antara para petani dan peternak, menurut polisi negara bagian Plateau.

Beberapa laporan menyebutkan perkelahian berawal pada Kamis (21/06) pekan lalu ketika petani warga suku Berom menyerang para peternak suku Fulani, dan menewaskan lima orang.

Belakangan peternak suku Fulani melakukan serangan balasan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang lebih besar.

Kawasan Plateau di Nigeria bagian tengah ini memang sudah lama memiliki sejarah konflik kekerasan antara kelompok-kelompok etnis yang memperebutkan lahan.

Jam malam sudah diberlakukan di tiga wilayah di negara bagian tersebut.

Komisari Polisi Plateau, Undie Adie, mengatakan pencarian korban di beberapa kampung yang dilanda konflik berdarah itu menemukan 86 orang tewas dan enam cedera.

Dia menambahkan 50 rumah dibakar, juga 15 sepeda motor dan dua mobil.

Pemerintah negara bagian Plateau mengatakan jam malam diterapkan mulai dari 18.00 hingga 06.00 waktu setempat di Riyom, Barikin Ladi, dan Jos South untuk mencegah `pelanggaran hukum dan ketertiban`.

Saling balas dendam yang meledak jadi perang

oleh Stephanie Hegarty, wartawan BBC di Lagos

Konflik ini sebenarnya sudah lama berlangsung namun beberapa waktu belakangan memasuki tingkat kebrutalan yang baru.

Di wilayah Nigeria bagian tengah, komunitas petani yang menetap sering bentrok dengan para peternak yang berpindah-pindah, biasanya dipicu oleh akses atas tanah dan hak untuk memberi makan ternak di padang rerumputan.

Namun aksi balas dendam sudah meledak menjadi perang komunal antar-suku, yang sepanjang tahun lalu menewaskan ribuan orang.

Dan kawasan ini juga rawan dengan ketegangan agama, antara umat Islam yang umumnya tinggal di sebelah utara dan Kristen yang berdiam di selatan. Para peternak umumnya merupakan suku Fulani yang beragama Islam sedangkan mayoritas petani adalah umat Kristen.

Namun tidak jelas kenapa kekerasan terbaru ini terjadi. Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari, berulang kali menuding eskalasi terkait dengan meningkatnya tembak-menembak di Libia, yang berbatasan dengan Nigeria.

Sebagian pihak menuding kegagalan aparat keamanan, yang sedang sibuk menghadapi dua pemberontakan, kelompok radikal Islam Boko Haram di utara dan para militan di kawasan utara yang kaya minyak.

Gubernur negara bagian Plateau, Simon Lalong, mengatakan sudah diambil langkah `untuk mengamankan masyarakat yang terkena dampaknya dan mencari pelaku kejahatan`.

“Sementara kita berdoa kepada Tuhan untuk memberi petunjuk dalam masa sulit ini, kita akan melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia untuk mengamankan negara bagian kita segera,” tuturnya.

Presiden Buhari -yang merupakan suku Fulani- berada di bawah tekanan untuk mengatasi ketegangan antara komunitas menjelang pemilihan tahun 2019 mendatang.

Aparat keamanan juga sudah dikerahkan ke negara bagian Benue, Nasarawa, dan Taraba untuk `mengamankan komunitas yang diserang serta mencegah serangan selanjutnya`.

Siapakahpara peternak Fulani?

Suku Fulani diyakini sebagai kelompok nomaden di dunia, yang ditemukan di wilayah Afrika Tengah dan Barat, mulai dari Senegal hingga ke Republik Afrika Tengah.

Di Nigeria, beberapa kelompok suku ini meneruskan tradisi hidup berpindah-pindah walau ada juga yang sudah tinggal menetap di kota-kota.

Sebagian besar waktu peternak yang nomaden ini di kawasan semak-semak.

Mereka menggembalakan ternak mereka di kawasan yang luas dan sering kali memicu bentrokan dengan masyarakat petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *