BI Klaim Pelonggaran LTV Bisa Dongkrak Sektor Properti

Ilustrasi pameran properti.
VIVA– Bank Indonesia mengakui pelonggaran aturan Loan to Value atau penghapusan uang muka untuk kredit pemilikan rumah (KPR) pertama, ditujukan untuk mendorong pertumbuhan sektor properti yang sedang tumbuh lambat.

Asisten Gubernur BI Filianingsih Hendarta menjelaskan, hal itu dapat dilihat dari rasio KPR terhadap produk domestic bruto Indonesia yang masih kecil jika dibandingkan negara tetangga yang sebesar 2,9 persen.

Sedangkan, untuk Filipina sudah sebesar 3,8 persen, Thailand 22,3 persen, Korea Selatan 26,8 persen, Jepang 33,7 persen, Malaysia 38,4 persen dan Singapura 44,8 persen.

“Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, rasio KPR ke PDB hanya 2,9, sedangkan Malaysia dan Singapura cukup tinggi. Maka potensi mengembangkan cukup tinggi,” ujarnya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu 12 Juli 2018.

Selain itu, lanjut dia, tren siklus pertumbuhan pembiyaan rumah untuk tahun ini meski sudah mulai tinggi, namun belum sampai pada puncaknya seperti yang terjadi pada 2012.

Hingga Mei tahun ini, dikatakannya untuk total pembiayaan properti mencapai Rp840,3 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 11,4 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama.

“Sekarang kita lihat ada geliat, tapi belum mencapai puncaknya. Maka di sini ada potensi,” ungkapnya.

Pembiayaan tersebut, kata dia, ditopang dari kredit properti dalam negeri yang sebesar Rp741,7 triliun dengan pangsa 88,3 persen. Kemudian diikuti dengan Utang Luar Negeri sebesar Rp80,6 triliun dengan pangsa 9,6 persen, dan Surat Berharga Dalam Negeri Rp18 triliun dengan pangsa 2,1 persen.

“Karena itu, ditambah sektor properti punya efek pengganda besar pada pertumbuhan ekonomi. Kalau properti menggeliat, semua, bata, cat, menggeliat. Karena itu kita perlu melakukan penyesuain kebijakan makro prudent yang lebih akomodatif dan memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen,” ucapnya.

Dia juga mengatakan, dari sisi supply dan demand, sektor properti juga masih cukup baik. Sehingga sektor ini yang paling mampu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gempuran gejolak global.

“Di sini dilihat ada geliat, masih ada potensi di situ, dari sisi supply dan demand nya. Dari sisi supply pengembang dari sisi demand nya itu sudah mulai meningkat. Lalu kemampuan debitur masih baik,” ungkapnya. (ren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *