HNW: Samawi Pendukung Jokowi Tidak Kelihatan Tampang Ulama

Hidayat Nur Wahid.
VIVA – Wakil Ketua Majelis Syuro Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid, menanggapi deklarasi perkumpulan bernama Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) yang mendukung Joko Widodo. Ia meminta seharusnya kontestasi pilpres diisi bukan dengan pencitraan.

“Harusnya kontestasi menuju pada Pilpres 2019 diisi dengan hal-hal yang betul-betul menghadirkan kejujuran, menghadirkan fakta dan jangan lagi pencitraan-pencitraan ataupun penggalangan-penggalangan yang justru akan menghadirkan antipati,” kata Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 13 Juli 2018.

Ia menambahkan sebelumnya sempat ada yang menyuarakan jangan membawa-bawa agama dalam politik atau jangan politisasi agama. Tapi kemudian terjadilah pengerahan massa yang disebut ulama muda.

“Kalau dilihat dari yang hadir itu tampang ulamanya enggak kelihatan. Istilah muda lagi kayak masih anak-anak, sebagian malah ibu-ibu yang cara berpakaiannya saja tidak menandakan bahwa mereka ulama,” kata Hidayat.

Ia juga mempermasalahkan istilah Samawi. Ia mempertanyakan kenapa tak dibuat saja dengan sebutan yang sesuai dengan Indonesia.

“Istilah ulama muda dan kemudian dikaitkan dengan dukungan calon presiden tertentu, tapi isinya adalah orang-orang yang sulit untuk dikatakan bahwa mereka ulama, bahwa mereka muda, anak-anak, kasihan Pak Jokowinya. Sesungguhnya karena beliau kemudian diposisikan seolah-olah didukung oleh pihak-pihak yang kredibilitasnya dipertanyakan,” kata Hidayat.

Ia pun juga menyindir soal rembuk nasional Aktivis 98 yang dianggap menghadirkan kontroversi yang lain. Menurutnya, mereka yang tampil terlihat masih seperti anak-anak.

“Semuanya kan menghadirkan kondisi di mana orang malah melihat pencitraannya atau rekayasanya terus berlanjut. Padahal yang diperlukan Indonesia bukan lagi pencitraan, rekayasa, tapi fakta tentang bagaimana kinerja dari Pak Jokowi, bagaimana beliau melaksanakan janji-janji kampanyenya,” kata Hidayat.

Ia meminta agar Jokowi membuktikan secara faktual. Sehingga kemudian orang akan mempertimbangkan memilih atau tidak memilih pada Pilpres 2019.

“Kalau kemudian dihadirkan Aktivis 98 tapi kemudian 89, atau malah masih anak-anak juga, ulama muda tapi bukan ulama, malah tidak muda juga masih anak-anak, semuanya akan menimbulkan hal tidak produktif bagi Pak Jokowi,” kata Hidayat. (ase)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *