Incar Millenial, Begini Uniknya Pameran Jelajah Ulos

Instalasi pameran Ulos
VIVA–Tak seperti batik yang kini telah mendunia dan bahkan memiliki hari nasional, nyatanya kain khas masyarakat suku Batak, Ulos belum sepopuler itu. Umum digunakan dalam berbagai acara penting, nyatanya kain Ulos mendekati kepunahan lantaran minimnya jumlah penenun aktif.

Untuk itulah sebuah pameran kain Ulos bertajuk Ulos, Hangoluan & Tondi digelar demi melestarikan budaya dari tanah Batak. Tak seperti pameran pada umumnya, ada yang menarik dari pameran yang digagas oleh Yayasan DEL, sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang sosial, budaya dan pendidikan.

Instalasi pameran yang dirancang oleh desainer interior muda Mita Lukardi ini memiliki beberapa tema. Dimulai dari pintu utama Museum Tekstil, tempat pameran ini digelar, pengunjung akan dimanjakan dengan instalasi pengenalan atau introduction, di mana pengunjung akan dikenalkan pada kehidupan sehari-hari masyarakat Samosir. Nuansa putih mendominasi ruangan bagian introduction ini. Melewati lorong dengan kain-kain berwarna putih, seakan tengah menyusuri gerbang menuju dunia lain.

Di ujung lain gerbang tengah menanti instalasi lainnya berjudul Birth yang terinspirasi dari awal sebuah kehidupan, ruangan ini memberi esensi dari sebuah kehidupan baru. Kali ini warna merah mendominasi ruangan, dengan beberapa kain ulos terlihat dipajang di sini. Salah satu kain yang menarik disini dinamakan Ulos Lobu-Lobu.

“Ulos ini diberikan pada perempuan yang ingin hamil atau yang baru melahirkan. Ada makna mendalam disini, selain berharap agar bisa segera diberi kehamilan, fungsinya bisa sebagai gendongan. Ulos ini juga diharapkan bisa melindungi anak-anak hingga generasi berikutnya,” kata Mita saat ditemui di Mesuum Tekstil, Jakarta, Rabu 19 September 2018.

Instalasi berikutnya adalah Life, nuansa alam dan kehidupan penduduk digambarkan secara nyata dengan diletakkannya anyaman bambu, foto masyarakat, kain Ulos, dan beragam tanaman. Kain Ulos yang dipajang di sini adalah kain yang digunakan dari masa kanak-kanak hingga usia senja. Beralih ke ruang berikutnya adalah Marriage. Pemilihan warna dan unsur dekorasi yang berbeda dari pandangan masyarakat modern pada umumnya. Masyarakat Batak memiliki nilai sendiri tentang kecantikan pesta pernikahan. Terdapat dua bangku di ruang ini yang bisa dimanfaatkan untuk berfoto-foto.

Ruang berikutnya adalah Death, suasana meriah yang digambarkan saat berada di ruang pernikahan, kontras terasa ketika memasuki ruang kematian. Suara sendu dan nuansa hitam mendominasi ruang ini. Ruang terakhir adalah Paradise, fase menuju kehidupan abadi.

Dalam pameran yang digelar mulai tanggal 20 September hingga 7 Oktober ini akan ada sekitar 50 kain Ulos yang dipamerkan, di mana beberapa di antaranya merupakan kain koleksi langka yang belum tentu dikenali oleh orang Batak sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *