Raksa Dana Pasar Uang Dinilai Investasi Paling Pas Saat Ini

Ilustrasi Perhitungan reksadana.
VIVA–Ketegangan perang tarif antara Amerika dan China, membawa dampak pada perilaku investor global saat ini. Para investor cenderung untuk mengambil posisi aman dengan melakukan aksi jual aset keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Investor pun melakukan aksi rebalancing ke negara safe haven. Hal ini ditandai dengan adanya arus keluar (outflow) dana investasi asing dari pasar modal Indonesia.

Chief Investment Officer PT Danareksa Investment Management, Edwin Ridwan menilai, dalam menyikapi sentimen negatif yang sedang terjadi di pasar global saat ini, investor tidak perlu panik. Karena kondisi ini hanyalah bersifat temporer.

Hal ini dilandasi oleh kondisi fundamental ekonomi domestik Indonesia yang masih sangat baik, di mana masih terlihat angka GDP yang masih tumbuh 5,20-5,30 persen dan inflasi yang terjaga di level 3,5+1 persen.

“Namun, investor tampaknya masih menunggu stabilitas nilai tukar rupiah dan mengambil posisi wait and see,” ujar Edwin dikutip dari analisisnya, Selasa 2 Oktober 2018.

Karena itu, dalam periode tersebut menurutnya, sangat tepat untuk kembali masuk ke dalam pasar saham dan obligasi. Sebab, investor masih dapat mengoptimalkan imbal hasil dana investasinya.

“Dengan melakukan penempatan pada instrumen yang memiliki risiko rendah dan tingkat likuiditas yang tinggi, yaitu reksa dana pasar uang,” tambahnya.

Salah satu produk reksa dana pasar uang DIM yang bisa dipilih, yaitu Danareksa Seruni Pasar Uang II. Reksadana ini dikelola secara aktif guna memperoleh pendapatan yang optimal dan risiko yang terkendali melalui investasi 100 persen pada Instrumen Pasar Uang dalam negeri.

Saat ini, strategi Seruni Pasar Uang II fokus berinvestasi pada obligasi korporasi kurang dari satu tahun yang memberikan imbal hasil yang tinggi. Diluncurkan pada tanggal 6 februari 2008, per 31 Agustus 2018, dana kelolaan Danareksa Seruni Pasar Uang II mencapai Rp1,83 triliun.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, produk ini mencetak kinerja sebesar 4,8 persen berada di atas rata-rata kinerja tolok ukur ATD 3 Month BUMN yang memberikan imbal hasil sebesar 3,06 persen pada periode yang sama. (asp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *