Penderita Gangguan Penglihatan Naik 2 Kali pada 2020, Ini Sebabnya

Ilustrasi anak
VIVA–Gangguan penglihatan, masih menjadi masalah yang dialami sebagian besar penduduk di dunia. Berdasarkan data WHO, ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan.

Dari total keseluruhan, 39 juta diantaranya mengalami kebutaan, 124 juta dengan low vision serta 153 juta mengalami gangguan penglihatan karena kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Mirisnya, 90 persen dari para penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini hidup di negara dengan pendapatan rendah.

“Jika dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan apapun, maka jumlah penderita gangguan penglihatan dan kebutaan ini akan membengkak menjadi dua kali lipat pada tahun 2020,” ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono, M.Kes, dalam peringatan, Hari Penglihatan Sedunia, di Kemenkes, Selasa 2 Oktober 2018.

Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB tahun 2014 – 2016 di lima belas provinsi dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas diketahui bahwa angka kebutaan mencapai 3 persen.

“Kalau dilihat datanya, penyebab kebutaan terbanyak adalah katarak 81 persen, diikuti oleh kelainan segmen posterior non RD 5,8 persen, kekeruhan kornea non trachoma 2,8 persen kelainan bola mata/SSP abnormal 2,7 persen, glaukoma 2,5 persen dan kelainan refraksi 1,7 persen,” ungkap Anung menambahkan.

Data ini mendasari fokus program penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia, pada penanggulangan katarak dan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya. Ini pula yang membuat pemerintah berencana meluncurkan Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional yang disingkat “SIGALIH” .

“Jadi ini merupakan suatu sistem informasi yang berbasis web/android untuk melaporkan pencatatan dan pelaporan skrining gangguan penglihatan warga negara Indonesia yang melakukan deteksi dini di Posbindu,” kata Anung.

Sistem ini juga diharapkan akan terhubung dengan Rumah Sakit sehingga akan dapat diketahui tindak lanjut terhadap pasien yang telah dirujuk. (ren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *