Rupiah Bertahan di Atas Rp15 Ribu Per Dolar AS, Ini Kata Sri Mulyani

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati
VIVA–Nilai tukar rupiah kian melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Hingga perdagangan sore ini, dolar AS masih bertengger di atas level Rp15.000.

Dikutip dari kurs referensi beberapa perbankan nasional, Selasa 2 Oktober 2018, di BCA dolar AS sudah dijual Rp15.045 dan dibeli Rp14.995. Sementara itu Kurs BNI, dolar AS dijual Rp15.050 dan dibeli senilai Rp14.870.

Adapun berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini rata-rata menyentuh level Rp14.988 per dolar AS, atau melemah dari perdagangan kemarin yang mencapai Rp14.905.

Merespon pelemahan rupiah itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya bersama-sama dengan Bank Indonesia dan Menko Perekonomian Darmin Nasution terus melihat perkembangan nilai tukar rupiah.

Di satu sisiSri menjabarkan, pemerintah akan terus melihat indikator-indikator yang menopang perekonomian Indonesia. “Umpamanya, kalau dari sisi perbankan, apakah sektor perbankan kita cukup kuat dan terus akan bisa menyesuaikan dengan nilai Rp15.000 per dolar AS ini,” ujar Sri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 2 Oktober 2018.

Ia melanjutkan, jika dilihat dari capital adequacy ratio (CAR) atau kecukupan modal perbankan, kredit macet dan bunga pinjaman perbankan, nampaknya akan ada penyesuaian sebagai imbas dari penyesuaian nilai tukar rupiah ini.

“Tampaknya adjustment terhadap angka Rp15.000 masih terjadi secara cukup baik,” jelas Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Kemudian dari sektor riil, Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III diperkirakan cukup tinggi. Sementara itu inflasi mengalami penurunan atau deflasi. “Growth dikontribusikan dari sektor konsumsi, investasi dan pada degree tertentu adalah ekspor dan belanja pemerintah yang saya sampaikan tumbuh 8 persen, bisa memberikan kontribusi yang bagus,” ujarnya menambahkan.

Dari sisi kestabilan, Bank Indonesia berkomitmen akan terus mengelola nilai tukar ini sehingga bisa mengawal perekonomian dan menyesuaikan dengan tingkat ekuilibrium yang baru. Ia mengatakan, seluruh pihak akan menjaga seluruh instrumen yang ada.

“Kami dari Kementerian Keuangan akan menggunakan instrumen APBN, fiskal dalam menjaga perekonomian kita, baik dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan stabilitas dan juga melindungi kelompok masyarakat yang paling rawan,” ujarnya.

Sri pun mengakui, level ini harus di perhatian secara seksama. Selain itu tak dipungkiri juga bahwa kondisi nilai tukar rupiah saat ini adalah pengaruh dari normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. “Dan kita berharap penyesuaian ini bisa muncul tetap dengan indikator-indikator perekonomian yang bisa dijaga secara baik.” (mus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *