Alumni Australia di Indonesia Berupaya Bantu Korban Gempa Sulteng

Korban gempa masih kesulitan untuk mendapat kebutuhan-kebutuhan mendasar.
Jejaring sosial, seperti Facebook dan Whatsapp, telah membuat warga semakin mudah untuk bergerak membantu korban gempa di Palu dan Donggala.

Berbagai kalangan di Australia sudah berusaha membantu baik secara individu maupun melalui kelompok untuk mencoba meringankan beban para korban gempa bumi dan tsunami tersebut.

Seperti yang dilakukan Annisah K Fitri yang pernah tinggal di Melbourne, Australia.

Pada awalnya Anisah mencoba menghubungi Mutia, warga asal Palu yang suaminya juga pernah belajar RMIT Melbourne. Baca kisah Mutia dan keluarganya saat gempa disini.

Dari awalnya yang ingin membantu Mutia dan anak-anaknya yang harus tidur di luar, Anisah kemudian mengajak teman-teman lainnya yang pernah tinggal di Melblourne untuk menggalang dana.

Ia menyalurkannya langsung dengan salah satu warga yang memiliki akses ke keluarga korban di kabupaten Mamuju, dekat Palu dan Makassar.

“Kita mendapatkan informasi dari relawan di sana jika tempat-tempat penampungan karena masih kekurangan kebutuhan, terutama popok bayi, pembalut perempuan, susu kotak yang bisa diminum anak-anak langsung,” ujar Anisah.

“Sekarang kita sedang membuat daftar untuk barang-barang yang difokuskan bagi ibu dan anak.”

Dana yang berhasil digalang kemudian akan diberikan ke Ridwan Alimuddin, yang juga Ketua dari gerakan literasi Perahu Pustaka di Sulawesi. Anisah mengatakan Ridwan kemudian akan bertanggung jawab untuk berbelanja di Mamuju untuk dikirim ke Palu.

Rayakan ulang tahun dengan menggalang dana Seorang anak laki-laki memakai kacamata dan tersenyum ke kamera Adam baru berulang tahun ke-9 dan ingin bantu korban gempa dengan menjual mainan dan buku-bukunya.

Foto: Koleksi Diena Said

Sementara itu upaya penggalangan dana terus dilakukan oleh sejumlah komunitas Indonesia di Australia. Salah satunya adalah Adam.

Adam baru saja menginjak usia sembilan tahun. Tapi khusus tahun ini ia tidak ingin merayakan ulang tahunnya. Ia ingin membuatnya spesial dengan menggalang dana bagi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Diena Said, ibu dari Adam asal Jakarta yang sudah tinggal di Melbourne sejak 2009 mengatakan Adam tergerak hatinya untuk menolong setelah melihat berita dan video soal Palu.

“Awalnya malam-malam saya dan anak-anak sedang berbaring di tempat tidur dan melihat kiriman soal Palu di Whatsapp,” ujar Diena saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

“Adam tiba-tiba mengatakan, “I”m so sad” [saya sedih sekali]”.

“We should do charity [kita harus melakukan amal,” ujar Adam kepada ibunya malam itu.

Diena mengatakan Adam teringat dengan sisa uangnya dari hadiah lebaran yang berjumlah $20, atau lebih dari Rp 200 ribu. Adam pun meminta ibunya untuk menyumbangkan bagi korban di Sulawesi Tengah.

“Tapi ia juga mengatakan kalau perlu uang lebih banyak, kemudian muncul ide untuk menjual mainan dan buku-bukunya yang sudah tidak terpakai.”

Diena mengaku jika sejak kecil Adam sering diajarkan jika ada orang-orang yang tidak seberuntung dirinya.

Rencananya Adam akan menggelar “Garage Sale” di rumah orang tuanya di kawasan Pascoe Vale, Melbourne hari Minggu mendatang (7/10).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *