Kementan Diminta Petani Cek Langsung Kondisi Paceklik

Ilustrasi/Kemarau atau kekeringan
VIVA– Klaim pemerintah yang menyatakan bahwa musim kemarau tak akan mengganggu hasil panen, dinilai sejumlah petani kurang tepat. Sehingga, Kementerian Pertanian diminta turun ke lapangan menyaksikan kondisi paceklik di daerah.

Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli, mengatakan bahwa musim kemarau yang panjang jelas berdampak langsung terhadap pertanian dan kehidupan para petani secara kompleks.

Menurut dia, optimisme Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa musim kemarau tak berdampak signifikan pada produksi beras nasional tidak tepat, sebab musim kemarau justru menghadirkan persoalan lain kepada petani seperti tumbuhnya hama di lahan pertanian mereka.

“Hama di ladang-ladang pertanian juga bertumbuh banyak. Ini yang kerap dikeluhkan oleh petani-petani,” jelas Agus dalam keterangannya dikutip Kamis 10 Oktober 2018.

Menurutnya, kemarau panjang juga menyebabkan petani gagal panen sehingga merugi dari sisi modal. Secara tidak langsung membuat petani memiliki utang panen sehingga ketika datang musim hujan mereka harus menanam ulang.

Tak hanya itu, luasan kekeringan ladang-ladang pertanian di daerah diyakini Agus lebih besar dibandingkan dari tahun sebelumnya, sebagaimana data yang diungkap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Di mana, menurut data BNPB, kekeringan telah melanda 11 provinsi di 111 kabupaten/kota, 888 kecamatan, dan 4.053 desa yang notabene di antaranya daerah sentra beras dan jagung, seperti Jatim, Jateng, Jabar, Sulsel, NTB, Banten, Lampung, dan beberapa provinsi lainnya.

Tak hanya itu, kondisi kekeringan selaras dengan hasil studi Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), dimana 39,6 persen dari 14 kabupaten sentra padi mengalami penurunan produksi di kemarau panjang ini. Penurunannya bahkan tidak tanggung-tanggung, mencapai 39,3 persen.

Untuk itu, Agus menyarankan, Kementan berkoordinasi langsung dengan para petani dan menampung masalah-masalah yang dihadapi petani. Terlebih, selama ini Kementan kurang optimal membenahi persoalan yang dihadapi petani, khususnya saat musim kemarau melanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *