Tren Survei Jokowi Mirip SBY, Berpeluang Besar Menang Pemilu

Jokowi-Maruf Amin Daftarkan Diri ke KPU
VIVA–Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan menganalisis bahwa Jokowi akan berpeluang lebih baik untuk menang dalam Pilpres 2019 bila berkaca pada riwayat survei Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang selalu unggul di atas lawannya pada periode lebih awal. Berbeda dengan Megawati yang surveinya sebagai calon petahana selalu rendah.

“Membandingkan year on year elektabilitas Jokowi dan SBY sebagai calon dengan dan tanpa petahana dan sama-sama sebagai petahana menjelang hari H pilpres menjadi menarik,” kata Djayadi di kantor SMRC, Jakarta, Minggu 7 Oktober 2018.

Survei dukungan pada pilpres 2009, SBY sebagai petahana selalu unggul di atas Megawati. Ia meminjam survei Lembaga Survei Indonesia menjelang hari H Pilpres 2004.

Pada 30 Mei 2009, survei terhadap SBY-Boediono 70 persen. Sementara, Megawati-Prabowo 17,5 persen. Lalu 30 Juni sampai 2 Juli 2009, SBY unggul 63 persen di atas Megawati 16,3 persen. Hasil pilpres sesuai hitungan KPU, SBY menang 60,8 persen dan Megawati hanya 26,8 persen.

“Sebagai petahana SBY dalam survei selalu unggul atas lawan-lawannya, bahkan selama hampir lima tahun menjelang pilpres 2009,” kata Djayadi.

Ia menambahkan, SBY hanya sekali mengalami penurunan tajam sekitar 2 persen pada Juni 2008. Sebab saat itu SBY menaikkan harga BBM ketiga kalinya karena harga minyak dunia melonjak.

“Setelah kenaikan BBM itu, dengan serangkaian kebijakan sosial-ekonomi yang dibuatnya terutama cash transfer, dukungan pada SBY kembali naik hingga hari H pilpres,” kata Djayadi.

Ia menjelaskan pelajaran dari pilpres 2009, tren keunggulan seorang calon dalam survei sulit diturunkan kecuali ada peristiwa atau kebijakan yang tak populer oleh petahana.

“Kebijakan tak populer pun efeknya hanya sebentar bila petahana bisa menanggulangi efek negatif dari kebijakan tersebut,” kata Djayadi.

Menurutnya, sebagai petahana, SBY jelang Pilpres 2008 dan Jokowi jelang Pilpres 2019, tren mereka terus unggul di atas penantang. SBY kemudian mengakhiri dengan kemenangan pada 2009.

“Melihat pola tren dukungan pada SBY yang sukses 2009 yang lalu, Jokowi punya peluang yang sama. Bahkan sebagai petahana tren dukungan pada Jokowi lebih kuat. Karena itu Jokowi kemungkinan punya peluang lebih baik lagi,” kata Djayadi.

Diketahui terbaru, SMRC mengadakan survei dengan populasi survei warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam Pemilu dengan metode multistage random sampling sebanyak 1220 responden. Response rate 1074. Tingkat margin of error kurang lebih 3,05 persen. Survei ini dilaksanakan 7 hingga 14 September 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *