Komite UIII Pastikan Rumah Cagar Budaya Cimanggis Tidak Dirobohkan

Profesor Komarudin Hidayat, memastikan Rumah Cimanggis tak akan digusur.
VIVA–Ketua Harian Komite Pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia, Komarudin Hidayat memastikan tidak akan merobohkan bangunan cagar budaya rumah peninggalan zaman Belanda yang berdiri sejak abad 18 masehi di Cimanggis.

Bahkan, Komarudin memastikan dalam proyek nasional ini, lahan cagar tersebut akan dipulihkan seperti semula untuk menarik minat kunjungan ke kampus.

“Tetap itu (tidak dirobohkan), nanti kita akan restorasi,” ujar Komarudin, seusai pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil di Gedung Sate Kota Bandung, Selasa 9 Oktober 2018.

Saat ini, yang menjadi prioritas adalah mendorong Pemerintah Kota Depok, untuk segera berperan menuntaskan pemulihan rumah tersebut. “Iya, itu bagian dari warisan budaya, cahar budaya. Bahkan, itu daya tarik orang berkunjung ke situ,” katanya.

Sedangkan untuk desain cagar, pihaknya belum bisa memberikan gambaran rinci. “Nanti belakangan, yang penting tidak dirobohkan,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya, akhir tahun lalu, warga Kota Depok dibikin geger dengan rencana pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Sebab, pembangunan itu akan menghancurkan Rumah Cimanggis, sebuah bangunan tua yang berdiri sejak abad ke 18 Masehi.

Rencana itu membuat para pegiat dan peminat sejarah melakukan protes. Mereka menentang rencana penghancuran bangunan tersebut. Karena, bangunan itu adalah saksi sejarah sejak tiga abad lalu.

Bangunan tua yang megah itu berlokasi di kompleks Radio Republik Indonesia (RRI) Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Bangunannya memang sudah tak lagi berbentuk utuh. Atapnya sudah roboh dan nyaris tak bersisa. Tetapi, tembok dan jendela-jendela yang sebagian sudah hancur dan penuh lumut masih kokoh berdiri.

Beberapa bulan lalu, kasus Rumah Cimanggis sempat menjadi polemik. Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang juga Ketua Yayasan UIII, sempat mengatakan Rumah Cimanggis tak layak untuk disebut sebagai benda bersejarah. “Rumah itu rumah istri kedua dari penjajah yang korup. Jadi, rumah istri kedua gubernur yang korup, masa mau menjadi situs masa lalu. Yang mau kita bikin di situ, situs masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Heritage Community Ratu Farah Diba membantah argumen Jusuf Kalla. Menurut dia, Rumah Cimanggis sangat perlu dilestarikan, karena menjadi bukti dari peninggalan sejarah Depok pada masa kolonial sebagaimana tertuang dalam lampiran Perda nomor 1 tahun 1999 tentang Hari Jadi dan Lambang Kota Depok.

“Di dalam lampiran satu tertuang tentang sejarah singkat Kota Depok yang terbagi dalam tujuh zaman atau fase, dan salah satunya Depok pada zaman kolonial yang mengakui keberadaan masa kolonial di Depok. Untuk itu, sebagai bukti dari sejarah harus dilindungi dan dilestarikan sebagaimana Undang-undang nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya yang turut mengaturnya,” kata Farah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *