Petani Australia Usul Visa Khusus Pertanian untuk Tarik Pekerja Asing

Ian Quinn memerlukan 70 pekerja setiap musim untuk memetik mangga dari 35 ribu pohon di lahannya.
Para petani buah dan sayur di Australia mengatakan sulitnya mendapat pekerja menyebabkan setiap tahunnya ratusan ton buah tidak bisa dipanen, dan mereka berharap pemerintah akan membuat visa khusus pertanian untuk mendatangkan pekerja dari luar negeri.

Akhir Agustus lalu, partai Nasional, salah satu partai yang berkoalisi dalam pemerintah Australia saat ini menjanjikan visa khusus pertanian ini akan disetujui dalam bilangan minggu, namun kemudian menteri dari kalangan Partai Liberal yang juga memerintah menyerukan pembekuan visa karena akan menimbulkan masalah diplomatik dengan negara-negara Pasifik.

Di Australia saat ini sudah ada skema bernama Program Pekerja Musiman (SWP) yang mengijinkan masuknya pekerja pemetik buah dari negara-negara Pasifik dan Timor Leste.

Negara-negara Pasifik mengkhawatirkan visa khusus pertanian akan membuat para petani tidak lagi hanya merekrut pekerja dari negara-negara mereka saja.

Angka dari Departemen Tenaga Kerja dan Usaha Kecil menunjukkan bahwa 6.166 pekerja masuk ke Australia lewat skema SWP di tahun 2016/17, sementara 4.402 orang masuk antara bulan Juli 2017 sampai Januari 2018.

Namun seorang petani di Northern Territory Ian Quinn mengatakan skema itu terlalu kaku dan tidak fleksibel untuk menghadapi musim panen yang kadang tidak menentu.

“Apa saja pasti akan lebih bagus dibandingkan skema SWP.” katanya.

“Kami sudah mengajukan SWP beberapa kali dan tidak tahu kapan kami akan mendapatkan pekerja kami sampai tiga minggu sebelum kami memerlukannyal Jadi apapun pasti akan lebih baik dari yang ada sekarang.” katanya.

Para petani berharap visa khusus pertanian akan cukup luwes sehingga memungkinkan pekerja yang sama kembali tiap tahun, selama masa tiga sampai lima tahun sebelum visa mereka diperbarui.

Ini akan memungkinkan petani tidak harus melatih para pekerja dari awal, di saat musim panen yang sibuk.

Petani ingin mereka yang mendesain visa khusus tersebut Veggie and salad farmer, Andrew Bulmer leans on his red tractor with a view of the field in the background. Petani sayur dan salad Andrew Bulmer mengatakan mendapatkan pekerja yang trampil dari tahun ke tahun merupakan tantangan terbesar.

ABC Rural: Isabella Pittaway

Quinn memiliki 35 ribu pohon mangga, yang tiap tahunnya perlu dipanen antara bulan Agustus sampai November.

Di masa panen ini, staf di ladangnya yang biasa hanya berjumlah tujuh orang akan membengkak menjadi 70 orang.

“Kami tidak pernah akan bisa mendapatkan pekerja dari dalam Australia karena ini tidak menarik bagi anak-anak muda, tidak ada jenjang karir dalam pekerjaan musiman pemetik buah.” kata Quinn.

“Secara mendasar, pekerjaan yang bagus selalu akan ada di Australai di tingkat manajemen atau tingkat keilmuan.”

Quinn berharap bahwa visa khusus pertanian ini akan memperhatikan masalah tersebut.

“Kami berpandangan visa khusus pertanian akan memperluas jangkauan asal pekerja dan menyederhanakan proses untuk bisa mendatangkan orang dari tahun ke tahun.” katanya.

Perlunya visa khusus pertanian ini juga dirasakan di berbagai tempat di Australia, dimana di Victoria petani sayuran dan salad Andrew Bulmer mendukung pernyataan Quinn.

“Kami ingin memastikan kami mendapatkan orang yang bagus yang bisa bekerja.” kata Bulmer.

“Kami menghabiskan dana dalam jumlah besar dan juga waktu untuk melatih mereka, dan ingin memastikan mereka akan tersedia dan menambah nilai bisnis.”

“Kami ingin orang ke sini untuk bekerja. Mereka ke sini bukan untuk berlibur. Kami ingin mereka datang bekerja sehari dan mendapat bayaran sehari.”

“Saya kira kami memerlukan visa khusus. Para backpacker tidak pernah dirancang untuk menjadi solusi bagi industri ini.”

“Program Pekerja Musiman lebih bersifat bantuan asing bagi pemerintah negara asal pekerja, bukan soal pasokan pekerja dan karenanya perlu diperbaiki.”

“Saya kira kalau dirancang secara khusus untuk kepentingan industri pertanian, maka akan membuat perbedaan besar.”

Lihat laporan selengkapnya dalama bahasa Inggris di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *