Blockchain Inti dari Ekonomi Digital, Begini Penjelasannya

Blockchain
VIVA – Seiring dengan perkembangan zaman, digitalisasi ekonomi merupakan hal yang tidak bisa terelakkan. Bahkan Presiden Joko Widodo menegaskan perlu regulasi yang tepat untuk mengatur perkembangan digital ekonomi dan keuangan. 

Direktur Infrastruktur ICT di Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Muhammad Neil El Himam mengatakan, kebijakan yang tepat saat ini adalah yang merangkul para pelaku ekonomi digital tersebut. Sebab, bila terlalu ditekan oleh hukum maka pelaku ekonomi digital akan menjauh dan negara kehilangan potensinya.

Salah satu  perkembangan digital ekonomi adalah yang disebut blockchain yang merupakan bisnis data digital. Meskipun belum besar, namun pasar blokchain di Indonesia masih sangat besar.

“Indonesia aktif merangkul ekonomi digital dan teknologi yang canggih yang diwakili oleh blockchain merupakan sumber penting dari transformasi ekonomi digital,” ujar Neil dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat, 12 Oktober 2018. 

Dia mengatakan Pembangunan Blockchain Indonesia masih dalam tahap awal dibandingkan dengan Amerika Serikat, China, Jepang dan Korea Selatan. Tetapi, masyarakat umum di Indonesia sudah memiliki pemahaman yang mendalam mengenai proyek blockchain dan permintaan yang kuat untuk berpartisipasi dalam pasar ini.

Sementara itu, Pendiri Blockchain No.1 Jack Sun mengungkapkan, teknologi blockchain dan pasar membutuhkan pembelajaran dan komunikasi jangka panjang. Bidang blockchain selain kebutuhan sesuai kebijakan industri startup juga perlu pengusaha media dan industri untuk tumbuh bersama-sama.

“Dari 2008 hingga saat ini, telah berkembang pesat dan nilai perkembangan blockchain industri disorot,” ujarnya.

Berdasarkan statistik tidak lengkap, ada lebih dari 2.000 blockchain yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan di dunia, 43,0 persen didirikan pada 2017. Saat ini, industri blockchain memasuki tahap permainan saham, lebih dan lebih banyak modal memperhatikan blockchain, tetapi industri juga memiliki situasi yang keseragaman bisnis, modal tidak merata yang memiliki sisi baik dan buruk dan satu lagi pengawasan tidak mendukung atau memadai.

Pada saat yang sama, blockchain memiliki batas profesional tertentu. Untuk investor biasa dalam analisis logika white paper dan sering bingung akan kepastian apakah aplikasi dapat mendarat. Kelemahan umum pengetahuan dalam bidang ini dan keinginannya cenderung digunakan oleh sumber-sumber informasi yang buruk.

“Kami akan berfokus pada laporan industri blockchain,berita terkini,data pasar, interpretasi teknis dan kedalaman yang eksklusif, serta untuk membantu mereka memahami pengetahuan blockchain, mengumpulkan informasi penting dari daerah yang tepat serta nilai riil pra-kontrak dari informasi yang kompleks,” tambah Sun.

Dia pun menegaskan, pengembangan industri tidak bisa dipisahkan dari bimbingan pemerintah, dan juga tidak terlepas dari penyebaran media.

 “Kami sangat berharap dalam layanan informasi memberikan investor pendidikan, penelitian mendalam dan opini publik pengawasan empat area efektif untuk membantu pengembangan blockchain Indonesia dan bahkan menjadi media blockchain paling profesional di Asia Tenggara,” tegas Sun. (ren)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *