Polri Tangkap 121 Tersangka Penjarah Usai Gempa Palu

Warga berada di sekitar lokasi reruntuhan dinding Lapas Kelas II A Palu, di Palu, Sulawesi Tengah
VIVA – Polri tengah bekerja keras memulihkan keamanan dan ketertiban dua pekan setelah gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Mereka berupaya kembali mengoptimalkan penegakan hukum dan pelayanan masyarakat di daerah terdampak gempa.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menuturkan dalam rangka penegakan hukum, Polri terus melakukan penangkapan pelanggar hukum, misalnya pelaku penjarahan. Ratusan orang sudah ditangkap.

“Sampai hari ini Polres Palu dan Polda Sulawesi Tengah sudah mengamankan 121 tersangka yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan,” kata Dedi di Bogor, Jawa Barat, Jumat 12 Oktober 2018.

Para pelaku berasal dari Palu, Donggala, dan Sigi. Para pelaku mengincar anjungan tunai mandiri (ATM), toko penjualan alat elektronik, gudang, kendaraan bermotor, dan pusat perbelanjaan. Polri, kata Dedi, menangkap ratusan pelaku tersebut dan diamankan di Polres terdekat.

Bahkan, kata Dedi, sejumlah napi yang kabur dari lapas saat gempa sempat melakukan tindakan kriminal. Namun mereka juga berhasil diamankan.

“Sedikit ada residivis kita lakukan tindakan terukur (tembakan),” ujar Dedi.

Selain itu, Polri juga sudah mulai mengupayakan pelayanan masyarakat seperti kebutuhan surat-surat, misalnya SIM dan STNK kendaraan bermotor. Menurut Dedi, perpanjangan SIM khususnya di Polres Donggala dan Sigi sudah bisa dilaksanakan. Namun, untuk Polres Palu menunggu peralatan menunggu dari Korlantas.

Polri juga berupaya memaksimalkan pelayanan pembuatan SKCK (surat keterangan catatan kepolisian). “Kebutuhan SKCK mutlak karena ada seleksi CPNS,” ucap Dedi Prasetyo.

Dedi mengakui, Samsat di Palu sempat hancur total dan pelayanan yang dilakukan belum maksimal. Namun, petugas terus melakukan peningkatan pelayanan sambil berlangsungnya proses evakuasi.

Lebih dari dua ribu personel Polri masih bersiaga di daerah terdampak gempa. Mereka terdiri dari beberapa satuan utama, misalnya, Brimob untuk evakuasi korban dan DVI (Disaster Victim Identification) untuk mengidentifikasi mayat korban gempa. (ren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *