Pidato ‘Winter Is Coming’ Jokowi Bisa Beri Pengaruh Positif ke Rupiah

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali
VIVA – Sejumlah sentimen negatif global diprediksi masih membuat rupiah tertekan dalam waktu sepekan ke depan atau dari 15 sampai 19 Oktober 2018. Namun ada pula sentimen positif yang mampu membuat rupiah tidak jatuh terlalu dalam. 

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, pihaknya memproyeksi kurs rupiah masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp15.150 sampai Rp15.250 per dolar AS. Ia menjabarkan beberapa sentimen positif yang memengaruhi. 

Salah satunya adalah pidato Presiden Joko Widodo saat membuka Rapat Pleno IMF-World Bank 2018 di Bali. Jokowi menghubungkan kondisi global terkini dengan serial televisi Game of Thrones. 

“Pidato Presiden Jokowi ditanggapi positif oleh pasar karena menitikberatkan pentingnya kooperasi dan koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi global di tengah perang dagang,” kata Bhima dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu 14 Oktober 2018. 

Pesan yang disampaikan Jokowi ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran para pemimpin di negara maju untuk mengakhiri kebijakan proteksionisnya. “Ini diharapkan membangkitkan kesadaran para pemimpin di negara maju untuk mengakhiri kebijakan proteksi dagang nya,” ujarnya menjelaskan. 

Dalam pidatonya di Bali, Presiden Jokowi mengaitkan potensi yang dihadapi negara-negara global dengan serial Game of Throne. Seperti salah satu jargonnya yang ditekankan Jokowi adalah Winter is Coming untuk mengakhiri perang dagang. 

“Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar. Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa: Winter is Coming,” kata Jokowi. 

Bhima melanjutkan, beberapa sentimen positif untuk rupiah lainnya adalah penurunan harga minyak mentah dunia yang disebabkan oleh revisi data permintaan energi di China. 

“Harga minyak penting sebagai barometer bagi Indonesia karena kita adalah negara net importir minyak sehingga penurunan harga minyak merupakan angin segar bagi defisit migas, dan cashflow Pertamina,” katanya. (mus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *