Gara-gara Bully, Satu Keluarga Tewas Dibunuh Tetangga Sendiri di Sumut

Para pelaku pembunuhan saat jumpa Pers di RS Bhayangkara Medan.
VIVA – Kerap dikatai dengan pasukan gajah, membuat AH dendam terhadap keluarga Muhajir, (49). Keduanya, bertentangga di Dusun III Gang Rambutan, Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dipicu perkataan tersebut, AH berniat untuk melakukan pembunuhan terhadap Muhajir bersama keluarga. AH dibantu rekannya, DN, R dan Y mendatangi ke rumah korban dan langsung melakukan pembunuhan, Senin malam, 8 Oktober 2018. Akibatnya, Muhajir bersama Suniati (50) serta anak mereka M Solihin (12).

Ketiga korban tewas setelah dipukul dengan menggunakan senjata tumpul seperti kayu dan batu. Kemudian, ketiga korban dengan kondisi tangan terikat dibuang pelaku dengan kondisi hidup ke Sungai Blumai di Kabupaten Deli Serdang. Kemudian, jasad korban ditemukan warga sekitar sungai tersebut.

Muhajir sendiri tercatat sebagai Manajer PT Domas. Polda Sumut dan Polres Deli Serdang akhirnya berhasil mengamankan para pelaku di sejumlah tempat di Sumut dan Pekan Baru, Riau.

Dari empat tersangka yang ditangkap, AH sempat mencoba melakukan perlawanan kepada petugas. Kemudian, petugas langsung menembak korban hingga tewas. Selanjutnya, jenazah AH dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Medan.

“Diduga korban mengejek tersangka AH dengan sebutan rombongan gajah,” ucap Kapolda Sumut, Irjen Pol. Agus Andrianto kepada wartawan di depan ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Senin petang, 22 Oktober 2018.

Agus menjelaskan untuk modus tersangka ingin meminjam uang kepada Muhajir. Begitu masuk ke rumah, tersangka langsung memukul kepala korban Muhajir dengan batu bata. Tersangka R kemudian masuk. Muhajir diikat dengan lakban. Begitu pun Suniati dan Sholihin sang anak. 

“Ketiga korban dikumpulkan di ruang tamu dan dijaga tersangka R. AH tewas, setelah menyerang personil yang mengendarai mobil dengan cara mencekik dengan kondisi tangan tersangka terborgol,” tutur Agus. 

Sementara itu, pengakuan seorang pelaku R menyebutkan pelaku juga suka mengakatai korban dengan sebutuan tuyul. Saling ejek, sering terjadi antara korban dan pelaku yang berunjung dengan pembunuhan.

“Kalau dibilang almarhum (korban) ke AH  pasukan gajah wis teko, artinya pasukan gajah sudah datang,” ucap tersangka R saat ditanyai Kapolda. 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *