Beda Panji Rasulullah dan Bendera HTI

Seorang anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) membawa bendera saat unjuk rasa di Jakarta beberapa waktu silam.
VIVA – Peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat, Senin, 22 Oktober 2018, tercoreng dengan ulah oknum anggota Barisan Serba Guna (Banser) Ansor. Dalam video viral di media sosial, tampak sekelompok anggota berseragam Ormas Banser membakar bendera warna hitam yang berlafaz Tauhid.

Saat melakukan pembakaran, para pelaku melantunkan lagu Hubbul Wathon Minal Iman. Beberapa orang itu pun terlihat mengepalkan tangan mereka, dengan bangganya. Salah satu orang di sana juga mengibarkan bendera merah putih dalam ukuran besar.

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengakui pembakaran bendera hitam berlafaz Tauhid di Garut benar dilakukan oleh anggotanya. Namun, Gus Yaqut menegaskan anggotanya tidak bermaksud membakar kalimat tauhidnya tapi yang dibakar adalah bendera ormas yang sudah dibubarkan pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Polemik soal bendera dan atribut HTI, pasca dibubarkan pemerintah, memang bukan pertama kali terjadi.

Ustaz Abdul Somad (UAS) juga pernah ditolak ceramah di Jawa Tengah, lantaran salah satu sahabat dakwahnya mengenakan topi hitam berlafaz Tauhid saat mengecek kesiapan acara.

Massa Banser di Jawa Tengah menuding ceramah Ustaz Abdul Somad telah ditunggangi HTI. Melalui sebuah video di laman Youtube, Ustaz Abdul Somad membantah tuduhan ditunggangi HTI. Simak penjelasan UAS di tautan ini.

Ustaz Muhammad Arifin Ilham melalui akun Facebooknya merilis video yang menjelaskan asal usul bendera hitam berlafaz Tauhid yang dibakar oknum Banser. Ustaz Arifin merujuk pada Hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas RA, bahwa “Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih”

Ar Rayah merupakan panji perang Rasulullah berwarna hitam bertuliskan lafaz Tauhid 'Laa ILaaha Illaallah Muhammadar Rosulullah' berwarna putih. Sedangkan Liwa merupakan bendera Rasulullah berwarna putih juga bertuliskan lafaz Tauhid tapi berwarna hitam.

Penegasan soal kalimat Tauhid dalam Ar Roya bertuliskan kalimat Tauhid disampaikan Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Bari (VI/147), merujuk Hadist Nabi dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rayah Rasulullah berwarna hitam dan Liwa berwarna putih tertulis di situ 'Laa ILaaha Illaallah Muhammadar Rasulullah'.

“Oleh karenanya ini bukan bendera ormas, ini adalah benderanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,” terang narasi dalam video yang diunggah Facebook Ustaz Arifin Ilham. 

(function(d,s,id){var js,fjs=d.getElementsByTagName(s)[0];if(d.getElementById(id))return;js=d.createElement(s);js.id=id;js.src=”//connect.facebook.net/en_US/all.js#xfbml=1″;fjs.parentNode.insertBefore(js,fjs);}(document,”script”,”facebook-jssdk”));

Dalam kitabnya, Ibnu Hajar menjelaskan Liwa atau bendera pada dasarnya dipegang oleh panglima tentara dan diemban di atas kepalanya. Abu Bakar bin al-aArabi mengatakan, Liwa berbeda dengan ar-Rayah. Liwa dipasang di ujung tombak dan dililitkan. Sedangkan ar-Rayah dipasang di ujung tombak dan dibiarkan ditiup angin.

Ada yang mengatakan kalau Liwa adalah bendera besar, tanda posisi panglima dan mengikuti ke mana pun ia berada.

Di zaman Rasulullah, Liwa dan Rayah menjadi kemuliaan bagi pemegangnya sekaligus eksistensi kaum Muslimin dalam peperangan. Tapi, makna Liwa dan Rayah tidak sebatas pada peperangan saja, keduanya juga merupakan pemersatu umat Islam.

Kalimat Tauhid mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam. (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizham al-Hukumah an-Nabawiyyah [At-Taratib al-Idariyyah], I/266).

Sementara itu, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo, menegaskan pemerintah tidak pernah melarang pengibaran bendera Tauhid, meskipun identik dengan simbol bendera yang digunakan ormas HTI.

“Yang kami larang itu adalah bendera dengan simbol HTI, bukan bendera tauhid. Keduanya berbeda, kalau HTI ini mencantumkan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di bawah kalimat Laillahaillallah,” kata Soedarmo dilansir laman Kemendagri, 22 Juli 2017.

Mantan Juru Bicara HTI Ismail Yusanto menganggap klaim Ansor bahwa bendera yang dibakar pada saat peringatan Hari Santri di Garut merupakan bendera HTI, sangat berlebihan. Menurut Ismail, bendera yang dibakar dalam video yang viral di media sosial itu merupakan Ar Rayah (Panji Rasulullah), berwarna hitam dan bertuliskan kalimat Tauhid.

“HTI tidak punya bendera,” tegasnya. (ase)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *