Hingga Kuartal III, Laba Bersih BTN Tumbuh 11,5 Persen

Direksi BTN.
VIVA – PT Bank Tabungan Negara Tbk, atau BTN membukukan laba bersih hingga akhir kuartal III 2018, sebesar Rp2,236 triliun. Capaian tersebut tumbuh 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau dibandingkan yang sama 2017, sebesar Rp2 triliun.

Direktur Utama BTN, Maryono menjelaskan, pertumbuhan laba bersih tersebut didorong kenaikan pendapatan bunga bersih pada kuartal III 2018, yang mampu mencapai Rp7,54 triliun atau naik sebesar 15,29 persen dibandingkan kuartal III 2017, yang hanya sebesar Rp6,54 triliun.

“Sehingga, aset kita menjadi Rp272,3 triliun dari yang 2017 itu sebesar Rp231,9 triliun. Sekarang rata-rata industri itu posisi Agustus, hanya meningkat 8,75 persen,” kata Maryono di kantornya, Kamis 25 Oktober 2018.

Untuk pendapatan bunga bersih tersebut, dikatakannya, berasal dari penyaluran kredit pada kuartal III 2018, yang mencatatkan pertumbuhan 19,28 persen yoy. Kredit BTN pada periode tersebut tercatat senilai Rp220,07 triliun atau naik dibandingkan kuartal III 2017, yang hanya sebesar Rp184,501riliun. 

“Pertumbuhan kredit ini didorong kenaikan KPR subsidi, karena BTN telah resmi mendapat kucuran FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Angka pertumbuhan kredit tersebut di atas rata-rata industri perbankan per Agustus lalu yang dicatat OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sebesar 12,12 persen,” ungkapnya.

KPR Subsidi yang memegang porsi 54,35 persen dari total KPR perseroan memang dikatakannya, melaju kencang dibandingkan KPR non subsidi. Secara keseluruhan, KPR tumbuh sebesar 21,81 persen yoy atau sebesar Rp163,61 triuliun. Pencapaian tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp134,31 triliun. 

Sementara itu, KPR subsidi melejit sebesar 30,11 persen yoy atau menjadi sebesar Rp88,92 triliun lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2017, yang mencapai Rp68,34 triliun. Sedangkan KPR non Subsidi, tumbuh sebesar 13,22 persen yoy menjadi Rp74,69 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp65,97 triliun. 

“Peningkatan year on year yang paling tinggi KPR subsidi sebesar 30,9 persen dan non subsidi 13,22 persen. Artinya KPR subsidi di industri rata-rata alami penurunan, kami mengalami peningkatan,” tutur dia.

Adapun untuk sektor kredit konstruksi perumahan, Maryono menambahkan, BTN mencatatkan pertumbuhan kredit konstruksi sebesar 17,41 persen yoy atau sebesar Rp28,45 triliun lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2017 yang mencapai Rp24,23 triliun yang mengalir bagi para pengembang perumahan. 

Selain itu, untuk kredit non perumahan. BTN dikatakan mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,50 persen yoy menjadi Rp19.67 triliun dibandingkan kuartal III tahun lalu yang mencapai Rp17,33 triliun. Adapun kontribusi terbesar dari segmen kredit non perumahan adalah kredit komersial yang mengalir sebesar Rp15,05 triliun sedangkan kredit konsumer tercatat mencapai Rp4,6 triliun. 

Terkait kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BTN diungkapkannya berhasil ditekan menjadi 2,65 persen di kuartal III 2017. Angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,07 persen. 

Sementara itu, untuk dana pihak ketiga atau DPK, pada kuartal III 2018 dikatakannya sebesar Rp 195,04 triliun atau naik 16,06 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp168,05 triliun. 

“Pertumbuhan dana simpanan BTN tersebut berada jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan. Data OJK per Agustus 2018, menunjukkan DPK industri perbankan nasional hanya tumbuh sebesar 6,88 persen yoy,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *