Tren YouTuber Pensiun dari YouTube, Psikolog: Harus Tahan Banting

Suasana kantor YouTube
VIVA –  Beberapa YouTuber menyatakan pensiun dari YouTube dengan beragam alasan, mulai dari ingin mencari hal baru sampai dengan mengalami depresi setelah mendulang uang di platform video Google tersebut. YouTuber yang pensiun di antaranya Marzia Bisognin, Reza Arap sampai Jaclyn Hill. Padahal mereka memiliki jutaan subscriber.

Psikolog anak dan remaja, Novita Tandry berpandangan, untuk memasuki dunia teknologi YouTuber harus siap secara mental.

“Setiap hal yang kamu lakukan itu harus memiliki tujuan, apa yang mau dia dapatkan atau hasilkan pada saat mengambil keputusan. Hidup itu pilihan, jadi saat mereka posting konten, sudah harus tahu konsekuensinya,” ujar Novita kepada VIVA melalui sambungan telepon, Kamis 25 Oktober 2018.

Konsekuensi atas konten yang mereka tampilkan di media sosial tidak hanya berlaku untuk YouTuber. Para konten kreator juga harus bijaksana mengenai dampak baik dan buruk, serta harus siap dengan kenyataan tidak semua orang akan setuju dengan apa yang dibuat kreator.

“Pasti ada yang pro dan kontra, kamu tidak bisa memaksa semua orang untuk suka. Dalam lingkup kecil seperti keluarga, pasti masih ada yang seperti itu. Karena jika sudah tidak memiliki ketahanan mental, dia pasti akan berhenti menggunakan media sosial,” ujarnya.

Novita mengatakan, jika memang mengambil keputusan untuk terus berada di platform media sosial, konten kreator harus bersedia tahan banting. Menjadi seorang yang bijaksana dalam menampilkan konten memang terbilang tidak mudah, butuh pengetahuan dan kecerdasan. 

“Seringkali manusia dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh emosi, atau pun diambil secara buru-buru. Hingga lupa memikirkan konsekuensi yang harus diterima. Kalau depresi sampai bunuh diri tergantung proses pembentukan karakter,” katanya.

Proses pembentukan karakter bisa dilakukan sedari anak umur dini. YouTuber harus menerima dan memahami setiap konsekuensi atas apa yang ingin dilakukan. Diri sendiri merupakan kata kuncinya. Pengambilan keputusan juga memerlukan rencana.

“Kalau ambil keputusan siapkan juga plan B, kalau bisa sampai plan C. Jadi kalau plan A tidak berjalan, pilihan selanjutnya sudah ada, sudah siap untuk dijalankan, agar tidak banyak kecewa. Jadi harus kenali diri sendiri, sejauh mana mentalnya bisa bertahan,” ujarnya.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *