Soal Pembakaran Bendera, TGB Singgung Kilafah Maslahat Prediktif

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul
VIVA – Polemik pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang bertuliskan kalimat tauhid kian berlanjut. Beberapa daerah menggelar aksi bela tauhid, Jumat, 26 Oktober 2018.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, massa yang berjumlah siang tadi menggelar aksi bela tauhid. 

Mantan Gubernur NTB, Zainul Majdi atau kerap dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB) mengomentari insiden pembakaran bendera oleh beberapa oknum Banser NU.

TGB melalui status pada akun Facebook resminya mengatakan pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid dapat menimbulkan fitnah. Dia menganjurkan agar sebaiknya di kemudian hari bendera tersebut diserahkan kepada aparat tanpa harus dibakar.

“Namun, cinta NKRI adalah satu hal, sedangkan membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah hal lain. Bagi saya, perbuatan itu bisa menimbulkan fitnah antar-kita. Kalau tidak setuju, lipat dengan takzim dan serahkan kepada aparat,” tulis TGB.

TGB juga mengatakan, perilaku tercela menggunakan kalimat tauhid untuk tujuan merebut kekuasaan tidak boleh menyebabkan semua pihak ikut melakukan perbuatan tercela.

“Perilaku tercela menggunakan kalimat tauhid untuk tujuan kekuasaan tidak boleh menyebabkan kita ikut melakukan perbuatan tercela. Segala anarkisme akan menghilangkan keadaban publik kita. Tahan diri, perbanyak silaturahmi,” ucapnya.

Dia juga menjelaskan sistem demokrasi NKRI tidak kalah baiknya dengan sistem kekalifahan karena Islam pada dasarnya tidak memerintahkan untuk menggunakan sistem tertentu.

“Saya meyakini, Islam tidak memerintahkan satu sistem pemerintahan tertentu, namun memberi panduan nilai-nilai mulia yang harus terwujud dalam sistem apa pun. Sistem republik demokratis yang kita sepakati dalam NKRI tak kalah valid dan sahnya dibanding sistem kilafah,” lanjut dia.

“Karena nilai-nilai dasar yang diperjuangkan Islam telah ada utamanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, syura dan keadilan. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan berbangsa,” sambungnya.

Menurut TGB, NKRI merupakan maslahat nyata sementara kilafah adalah maslahat prediktif.

“Bagi saya, NKRI adalah maslahat nyata sedangkan kilafah adalah maslahat prediktif. Kaidah mengatakan, al-maslahah al-mutahaqqiqah an-naajizah muqaddamah 'alal maslahah al-mustaqbalah al-marjuhah. Maslahat nyata, jelas dan telah terwujud, didahulukan diatas maslahat prediktif yang belum terwujud,” kata dia.

“Kalimat tauhid adalah persaksian kita di dunia dan akhirat. Padanya ada dua asma termulia. Asma Alloh yang kepadaNyalah kita akan kembali dan asma RasulNya yang syafaatnya kita harap dan nanti. Muliakan asma-asma itu dengan tidak menjadikannya tameng mencari kekuasaan,” ujar TGB. (ren)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *