Pembangunan Infrastruktur Digital Belum Merata, Ini Penyebabnya

Ilustrasi menara telekomunikasi.
VIVA – Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduk 265 juta jiwa. Dari total penduduk tersebut, sebanyak 137 juta jiwa aktif di media sosial yang menjadikan Indonesia sebagai pasar penting bagi industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Kendati demikian, pembangunan infrastruktur TIK yang diserahkan pelaku usaha mengakibatkan kurang meratanya akses informasi. Perusahaan teknologi dan telekomunikasi dinilai hanya membangun daerah yang secara finansial menguntungkan atau memperoleh return on investment (ROI) yang cepat, sehingga pembangunan dilakukan di kota besar.

Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Djisman S. Simandjuntak, melihat harus ada sinergi antara teknologi dan bisnis di era disrupsi seperti sekarang. Menurutnya, salah satu cara yang dilakukan lewat konsep 'Learning by Enterprising' atau konseptualisasi dan implementasi bisnis berbasis tim yang berorientasi pada lahirnya jiwa kewirausahaan.

“Saya berharap konsep ini bisa mendukung terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan siap menghadapi era disrupsi,” kata Djisman, dalam keterangannya, Jumat, 26 Oktober 2018.

Ia juga mengatakan bahwa sudah saatnya merobohkan dinding yang memisahkan antara sains teknologi dengan bisnis. Apalagi, pada 2030, Indonesia akan memperoleh bonus demografi, atau angkatan kerja lebih banyak dibandingkan bayi dan orangtua.

Lantaran pembangunan infrastruktur TIK hanya dibangun di wilayah berpotensi untung lah yang mendorong pemerintah menjembatani untuk memenuhi kebutuhan finansial bagi industri dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan akses teknologi dan komunikasi.

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan lnformatika, Ismail, berharap sebelum 2019 seluruh wilayah kabupaten/kota sudah mendapatkan akses internet.

“Memang tidak semua menggunakan kabel fiber optik sehingga saat ini sedang tender satelit yang nantinya aksesnya bisa di-direct ke daerah-daerah yang belum terjangkau layanan telekomunikasi,” ungkap Ismail. Ia mengatakan, meski pasarnya besar namun hingga saat ini Indonesia belum menjadi tuan rumah karena belum banyak aplikasi buatan produk lokal.

Menyinggung soal revolusi industri 4.0, Ismail menyebut pemanfaatan dan pertumbuhan teknologi tidak bisa dibendung, dan industri, mau tidak mau, harus melakukan penyesuaian berupa peningkatan efektivitas dan efisiensi.

“Supaya tidak terdisrupsi, maka kolaborasi adalah kunci dari inovasi. Dengan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan industri menjadi cara agar kita semua dapat menghadapi revolusi industri 4.0,” tutur Ismail. Untuk itulah Universitas Prasetya Mulya menggelar Conference & Exhibition on Business, Applied Science and Technology (Innoscape 2018).

Ketua Panitia lnnoscape 2018, Fathony Rahman menambahkan, pihaknya mendorong penyampaian gagasan akademisi, peneliti, dan pihak lain melalui penulisan karya ilmiah yang mengusung tema 'Perspektif Teknologi, Bisnis dan Kemasyarakatan'.

“Inovasi memengaruhi segala aspek. Mulai dari sistem bisnis, perilaku manusia hingga regulasi. Terjadi perubahaan mindset dari cara-cara regulasi yang menghambat menjadi mendorong aktualisasi dan akselerasi. Karya yang masuk meliputi inovasi digital, pangan dan kesehatan, keuangan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *