Awkarin Akui Media Sosial Mirip Narkoba, Bisa Picu Bunuh Diri

Awkarin
VIVA – Selebgram Karin Novilda, atau yang populer dengan nama Awkarin, belum lama ini pamit dari media sosial Instagram. Ia mengaku ingin menjalani kehidupan normal sebagaimana mestinya.

Setelah mengumumkan undur diri dari platform yang telah membesarkan namanya, ketika para fans masih berjibaku dengan rasa penasaran dan kehilangan, Awkarin malah terlihat menjadi relawan untuk korban gempa di Palu.

Namun, tak lama kemudian, perempuan 21 tahun itu mengunggah video berdurasi 44 menit di kanal YouTube. Di situ, ia bercerita panjang mulai dari siapa dirinya, komentar dari warganet tentang keputusannya, pencapaian sebagai influencer, hingga faktor yang melatarbelakangi ia hengkang dari Instagram.

“Aku lahir dari keluarga berkecukupan. Ibuku seorang dokter gigi, dan ayahku dokter spesialis mata,” kata Awkarin di video berjudul I Quit Instagram yang diunggah pada 22 Oktober 2018 itu.

Awkarin lantas melanjutkan sederet kisahnya, hingga sampai di menit ke-29, mulailah ia menyinggung soal sosial media memiliki pengaruh seperti narkoba.

“Kalian tahu enggak, ketika sosial media itu disalahgunakan atau digunakan secara berlebihan, sama bahayanya seperti narkoba,” kata Awkarin.

“Contoh seperti yang aku sudah aku alami. I post something on Instagram. I get likes. And then when I get likes, I get ecxiting, so much happy. Why?” ujar Karin dengan nada tanya.

Ia melanjutkan, ketika seseorang menerima likes dan komentar yang baik di media sosial, hal itu membuatnya bahagia, sebagai akibat dari saraf dalam otak yang mengeluarkan dophamin. Dophamin adalah hormon yang bertanggungjawab memberikan sensasi bahagia.

Awkarin

Menurut Karin, ketika seseorang menggunakan narkoba, maka dophamin itu akan dipaksa keluar dari saraf sehingga menimbulkan rasa bahagia.

“Ada substansi pada narkoba yang mengeluarkan dophamin, sama seperti sosial media. Dan kenapa aku bilang sama berbahayanya, karena ketika narkoba digunakan secara berlebihan, akan berakibat fatal pada kematian,” kata Awkarin.

“Sama seperti sosial media, ketika ekspektasi kalian tinggi pada sosial media, dan kalian tidak mencapai ekspektasi itu, kalian akan depresi, stres. Apa ujung-ujungnya? Suicide (bunuh diri),” ujarnya lagi.

Secara singkat, yang dimaksud Awkarin dapat disimpulkan, orang ingin mempertahankan kebahagiaan dengan mendulang banyak likes di Instagram, sehingga rela melakukan apa pun.

“I wanna do more, i wanna post more for my Instagram,” kata Karin.

Sudut pandang ilmiah
Setelah mendengar penjelasan Awkarin, mungkin kamu bertanya-tanya, benarkah seburuk itu efek media sosial, sehingga disamakan dengan narkoba?

Di laman Promises, sebuah lembaga yang menangani terapi mental dan kecanduan obat-obatan, mempublikasikan temuan dari peneliti tentang potensi adiktif penggunaan media sosial.

Peneliti melakukan studi pencitraan otak yang menunjukkan kesamaan antara kecanduan zat dan adiksi media sosial. Dengan kata lain, ada bukti yang kuat bahwa Facebook, Twitter, dan platform media sosial lainnya bekerja seperti narkoba dan alkohol di otak.

Penelitian lain tahun 2013 juga memaparkan ada kaitan antara intensitas Facebook dengan tingkat aktivitas di nucleus accumbens (sistem ‘penghargaan’ otak). Khususnya yang bertaut dengan pemeliharaan reputasi sosial pengguna.

Meski studi ini menggunakan acuan Facebook, tetapi peneliti yang tak disebutkan namanya itu juga menyebut media sosial lain. Mengingat sistem dan cara kerja media sosial saat ini kurang lebih sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *