GKR Hayu di Pameran I3E: Teknologi Jangan Hilangkan Tata Krama

Pameran I3E yang digagas oleh Kemenristek Dikti
VIVA – Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin mudah, tidak perlu beranjak dari rumah untuk mendapatkan suatu barang. Bahkan dengan kemajuan teknologi orang dapat mengunggah video ke YouTube dan mendapatkan penghasilan yang cukup besar.

Namun demikian, kemajuan teknologi menuju zaman digitalisasi juga punya sisi negatif, salah satunya mulai hilang tata krama dan sopan santun yang ada di masyarakat demi mengejar sesuatu yang indah untuk dipajang di media sosial.

“Ada tata krama yang mulai hilang demi mengejar sesuatu. Itu yang saya rasakan ketika melihat suatu acara budaya yang digelar oleh Keraton Yogyakarta,” ucap GKR Hayu dalam dalam acara talkshow I3E yang digagas oleh Kemenristekdikti di Jogja City Mall, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Putri keempat Sri Sultan HB X ini menyatakan, setelah dipercaya menjadi pejabat di Tepas Yekti Keraton Yogyakarta, mengaku dengan kemajuan teknologi dirinya berusaha untuk memperkenalkan berbagai aktivitas yang ada di Keraton Yogyakarta agar dunia mengetahui tradisi dan budaya yang ada di keraton.

“Bagaimana kita mengisi konten di media sosial milik Keraton Yogyakarta dengan berbagai tradisi dan budaya sehingga banyak diketahui masyarakat dunia internasional,” ucapnya.

Tata krama, menurutnya, harus melekat pada semua orang, termasuk jurnalis yang meliput kegiatan.

“Nah kita pertama yang dihadapi adalah para jurnalis yang meliput acara keraton, karena para jurnalis ini juga harus mengikuti tata krama di Keraton Yogya,” ujarnya.

Kondisi para jurnalis yang harus taat aturan di Keraton Yogya menimbulkan kesan keraton lebih tertutup dengan media. Namun kini, semua saling menyadari dan akhirnya tata krama serta aturan ditaati bersama.

“Nah, masalahnya itu dengan masyarakat umum yang nekat mengambil gambar atau video, namun meninggalkan aturan dan tata krama serta sulit untuk dipahamkan,” kata GKR.

Istri dari KPH Notonegoro ini mengaku pernah memberhentikan suatu acara atau tradisi keraton, karena ada masyarakat yang mengambil video dengan menggunakan drone.

“Itu tradisi membawa gunungan dan gunungan itu sedekah dari Sultan untuk masyarakat Yogya dan untuk ucapan syukur. Lha diambil video dengan drone. Itu kan seperti memegang kepala dari Sultan,” ujarnya.

GKR Hayu menyatakan tim media dari Keraton Yogyakarta telah menyiapkan berbagai foto hingga video yang bisa dinikmati masyarakat.

“Semua bisa ambil, bisa menjadi followers. Saya cuma pesan teknologi jangan sampai menghilangkan tata krama yang ada di masyarakat,” tuturnya. (webtorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *