Twitter dan Instagram Jadi Wadah Ujaran Kebencian ke Yahudi

Logo Twitter.
VIVA – Peneliti yang mempelajari tren media sosial mengatakan mereka melihat peningkatan posting ujaran kebencian terhadap Yahudi yang berasal dari pengguna Twitter dan Instagram beraliran ekstrem kanan.

Berdasarkan hasil penelitian yang kemudian dianalisa bahwa lebih dari 7 juta tweet sejak Agustus hingga September 2018 ditemukan serangkaian serangan, di mana sepertiga dari serangan terhadap orang Yahudi berasal dari akun otomatis, atau dikenal sebagai bot.

Peneliti dari Universitas Columbia, Amerika Serikat, Jonathan Albright, mengatakan bahwa serangan terhadap orang Yahudi meningkat di Twitter dan Instagram menjelang pemilihan umum paruh waktu pada 6 November mendatang.

Menurutnya kejadian ini mirip ketika menjelang Pemilihan Presiden AS pada 2016, di mana terjadi peningkatan yang signifikan serangan yang berlatarbelakang ujaran kebencian serta berita bohong atau hoax.

“Jumlah berita atau informasi anti-Yahudi yang beredar di kedua jejaring sosial ini terkait dengan sosok George Soros. Saya juga menerima dan melihatnya lewat foto-foto yang disebarluaskan di aplikasi pesan instan terpopuler,” kata Albright, seperti dikutip dari NBC News, Minggu, 28 Oktober 2018.

Soros merupakan seorang investor, miliarder, dan filantropis keturunan Yahudi asal AS. Albright bahkan menyebut Soros sering menjadi subyek teori konspirasi yang tidak berdasar, dan rumahnya, berada di antara target percobaan pembunuhan sejumlah tokoh lewat kiriman paket bom yang menggemparkan AS pada Kamis, 25 Oktober kemarin.

Albright menuturkan beberapa keterangan foto yang diterimanya diberi hastag atau tagar #soros, termasuk panggilan eksplisit untuk kekerasan terhadap orang Yahudi, menurut sampel yang dikumpulkan olehnya.

“Contohnya seperti ini. Hidup adalah tentang bagaimana menikam seorang Yahudi,” ungkapnya. Ia juga menegaskan postingan teratas yang direkomendasikan untuk #soros di Instagram pada Kamis lalu termasuk foto Soros dengan judul 'I am the devil', serta kartun yang menunjukkan bahwa Soros dan target lain dari perangkat peledak itu berada di belakang bom.

Untuk itu, Albright merekomendasikan agar Instagram menonaktifkan #soros, menghapus akun palsu, dan menghentikan pengisian otomatis bar pencarian dengan saran seperti ' Soros Jew' atau Soros Yahudi.

Instagram, seperti perusahaan induknya Facebook, melarang pesan berantai yang mendorong ujaran kebencian serta konten yang menargetkan individu untuk merusak atau mempermalukan mereka di platformnya.

Menanggapi hasil penelitian Albright, Instagram mengaku bahwa mereka sedang mencari temuan tersebut dan telah menghapus beberapa materi terkait #Soros yang melanggar kebijakannya.

Akan tetapi, mereka mengaku tidak melihat peningkatan yang signifikan dalam materi yang tidak diizinkan terkait dengan #Soros.

“Kami bekerjasama dengan Facebook untuk memahami konten palsu yang mereka lihat, dan menerapkan wawasan tersebut ke Instagram untuk mendeteksi perilaku yang melanggar kebijakan. Setiap konten yang melanggar Pedoman Komunitas kami, misalnya perkataan yang mendorong ujaran kebencian, akan dihapus,” demikian pernyataan resmi Instagram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *