Banjir Pesanan Kereta Api, PT INKA Bikin Pabrik Baru

PT INKA mengaku kebanjiran pesanan
VIVA – Kesuksesan PT Industri Kereta Api atau PT INKA memproduksi gerbong kereta ringan Light Rail Transit atau LRT Palembang, Sumatera Selatan terus berlanjut. PT INKA masih berupaya memperbesar kapasitas produksinya dengan berencana membangun pabrik baru menyusul banyaknya jumlah pemesan kereta.

Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro mengatakan, pembangunan pabrik baru ini, seiring dengan meningkatnya permintaan produksi kereta api asal Madiun, Jawa Timur.

Untuk saat ini saja, pihaknya tengah menyelesaikan proses tender dan penawaran harga dari kontraktor dalam pembangunan pabrik atau workshop baru di Banyuwangi. Luas lahannya sekitar 8,3 hektare.

“Target kami awal tahun 2019, pembangunan tahap satu pabrik baru sudah bisa dimulai. Masa pembangunan selama satu tahun,” kata Budi di Palembang, Sumsel, Selasa 30 Oktober 2018.

Dia menjelaskan, kebutuhan dana untuk workshop baru itu sekitar Rp1,3 triliun. Biaya pembangunan ini melebihi anggaran yang dimiliki PT INKA. Perusahaan BUMN tersebut hanya memiliki dana sekitar Rp600 miliar.

Anggaran itu berasal dari sisa penyertaan modal negara atau PMN di tahun 2016. Sementara itu, kekurangannya akan dipenuhi investor asal Amerika Serikat, Caterpillar Group.

“Mereka (Caterpillar) tertarik untuk berinvestasi untuk membangun pabrik khusus lokomotif termasuk peralatannya. Tahap awal nilai investasinya sekitar US$30 juta,” ungkap Budi.

Pabrik baru tersebut, direncanakan mempunyai kapasitas pembuatan empat kereta per hari. Jumlah itu dua kali lipat dari rata-rata kapasitas pabrik di Madiun. 

Dengan peningkatan produksi ini akan mampu memenuhi pesanan ekspor yang terus meningkat seperti dari Sri Lanka, Thailand, dan Filipina.

Selain itu, kata Budi, INKA bersama BUMN lainnya seperti Waskita Karya, LEN dan KAI di tahap pertama telah membentuk Indonesia Railway Develoment Konsorsium untuk memperluas pasar luar negeri. 

“Kami ingin menjual kereta api, sekaligus dalam satu paket. Mulai dari desain, pengadaan, konstruksi, finansial, hingga operasionalnya. Tergantung, negara mana yang membutuhkan itu,” terangnya.

Untuk masalah pendanaan ekspor, konsorsium didukung Exim Bank yang telah menyatakan siap mengucurkan pinjaman. Pihaknya juga sudah melakukan roadshow ke Manila berlanjut ke Vietnam, Sri Lanka, dan Bangladesh untuk menawarkan penjualan satu paket kereta. 

“Terkadang negara pembeli kesulitan akan pendanaan, tidak ada kontraktor dan desainer-nya. Maka itu, kita akan siapkan satu paket. Kita jual tergantung pesanan, baik jenis LRT maupun paket kereta biasa,” ujar Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *