Psikolog: Keluarga Korban Lion Air Butuh Didengarkan

Sejumlah santri dan santriwati pesantren Tunanetra hafidz Quran memanjatkan doa untuk para korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Yayasan Raudlatul Makfufin Serpong, Tangerang Selatan, Banten
VIVA – Para keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang menginap di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur saat ini mendapatkan pendampingan psikologis. Dari pendampingan kemudian dilihat bagaimana tindaklanjut penanganan anggota keluarga yang masih merasa kehilangan.

“Jadi yang kami lakukan adalah pendampingan psikologis, bukan trauma healing. Jadi benar-benar pendampingan. Misal ada yang nangis, ada yang curhat, baru kami lihat mereka butuh tindak lanjut lebih enggak? Mereka butuh konseling enggak, terapi enggak?” kata psikolog pendamping, Wiene di Hotel Ibis Cawang, Rabu 31 Oktober 2018.

Jika ada yang membutuhkan konseling atau terapi, maka para psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia ini sudah menyiapkan ruang khusus. Namun, Wiene mengaku tak bisa mengungkapkan kondisi para keluarga korban sejauh ini.

“Saya tidak bisa memberitahukan secara detail. Tapi kalau ada yang membutuhkan tindakan lanjutan, kami akan melakukan itu di ruangan khusus. Kalau sini di kamar,” ujar Wiene.

Wiene hanya mengungkapkan sejauh ini yang pasti para keluarga korban membutuhkan sosok teman. Mereka katanya membutuhkan teman untuk didengarkan ceritanya dan lain-lain.

“Kalau ada yang mungkin dibutuhin seperti relaksasi, stabilisasi emosi. Tapi yang pasti mereka butuh teman, untuk didengarkan curhatannya, ceritanya.” (mus)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *