Janry Mestinya Pulang Minggu, Dia Tunda hingga Senin dengan Lion Air

Janry Efriyanto, salah satu penumpang pesawat Lion Air JT-610, saat bersama teman-teman SMA-nya.
VIVA – Satu di antara 189 orang penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang itu, ialah Janry Efriyanto, warga Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Dia bekerja sebagai analis pemasaran bisnis usaha kecil pada Bank Negara Indonesia di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Beberapa hari sebelum peristiwa nahas itu, Janry bersama sebelas rekan kerjanya mengikuti kegiatan kantornya di Bandung, Jawa Barat. Kegiatan itu sesungguhnya sudah selesai pada Minggu 28 Oktober 2018.

Namun, dia dan rekan-rekannya menunda kembali ke Pangkal Pinang hari itu juga dan memutuskan pulang keesokan harinya, Senin pagi, dengan menumpang pesawat Lion Air JT-610.

Ade, adik kandung Janry, mengaku mendapatkan informasi itu dari perwakilan manajemen BNI Pangkal Pinang, dan diperkuat juga oleh keterangan beberapa rekan kerja kakaknya.

“Semua informasi itu didapat, setelah pihak BNI dan teman kerja Abang menginformasiknya kepada kedua orangtua saya,” kata Ade, saat ditemui VIVA di rumahnya di Muaro Jambi pada Rabu 31 Oktober 2018.

Ade, adik kandung Janry Efriyanto, salah satu penumpang pesawat Lion Air JT-610.

Janry dan sebelas rekan kerjanya, kata Ade, sengaja menunda pulang sampai keesokan paginya, karena memperkirakan dapat langsung ke kantor, setelah pesawat yang akan ditumpanginya mendarat di Pangkal Pinang. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Janry menumpang pesawat Lion Air JT-610 yang kemudian kecelakaan di perairan Karawang.

Ade dan keluarga masih berharap Janry selamat dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. “Doa kami, semoga Abang bisa selamat dan berkumpul lagi sama keluarga di Jambi,” ujarnya.

Menurut Ade, abangnya orang yang sangat baik dan tidak pernah neko-neko, bahkan paling dibanggakan oleh keluarganya. Janry juga sosok anak yang berprestasi dan pintar.

Selepas lulus kuliah jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya di Palembang, Janry memang langsung bekerja di BNI Pangkal Pinang. Gaji pertamanya langsung diberikan semua kepada orangtua, sebagai biaya sekolah adik-adiknya dan biaya renovasi rumah.

Menelepon Ibu

Keluarga Janry mengetahui bahwa pria itu menjadi korban kecelakaan pesawat Lion Air, setelah dihubungi manajemen Lion Air dan BNI Jambi pada Senin siang. Perwakilan kedua perusahaan mengajak kedua orangtuanya ke Jakarta, untuk proses identifikasi jenazah.

Keluarga tak pernah menyangka Janry berada dalam pesawat nahas itu dan belum diketahui nasibnya sampai sekarang. Padahal, dua hari sebelumnya Janry menelepon ibunya untuk mengabari bahwa dia sedang mengikuti pelatihan di Bandung.

Namun, beberapa saat setelah ramai kabar pesawat Lion Air jatuh, seorang kerabat kerja mengabari bahwa Janry berada di dalam pesawat itu. Janry semestinya pulang pada Minggu malam, selepas pelatihan, namun dia menundanya sampai esok paginya. (asp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *