Tiga Permasalahan JKN pada Pasien Kanker

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Mira Anggraini melayani peserta Jaminan Kesehatan – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Kantor Cabang Palembang, Sumatera Selatan
VIVA – Beragam jenis kanker menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular paling utama yang memicu kematian. Sayangnya, prioritas pengobatan untuk pengidap kanker pada pasien Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN masih terabaikan.

Terdapat tiga masalah utama yang dihadapi pasien kanker terhadap pelayanan pengobatan di JKN yang mencakup fasilitas, akses obat, serta manajemen pembiayaannya. Pertama, fasilitas yang belum merata menjadi kendala terhambatnya proses penyembuhan kanker pada pasien JKN.

“Pasien harus menunggu lama untuk diobati, karena alatnya bergantian dan sebagainya. Sehingga, kanker bisa menjadi lebih parah,” ujar pengamat kesehatan masyarakat dari FKM UI, Prastuti Soewondo dalam acara InaHEA di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis 1 November 2018.

Menurut Prastuti, seharusnya ada evaluasi terhadap distribusi penyebaran pada fasilitas kesehatan yang bisa melayani kanker. Selain itu, kompetensi sumber daya manusia pun harus diperhatikan agar lebih berkualitas dengan memberikan berbagai pelatihan bermakna.

“Kedua, yaitu permasalahan obat yang kosong yang padahal ada di fornas atau e-catalog, tapi kenyataannya tidak tersedia di pasar. Ini berbahaya bagi orang-orang yang harus minum obat setiap hari seperti penderita thalasemia dan hemofilia,” ungkapnya.

Terakhir, yaitu mekanisme pembiayaan yang dirasa belum efektif. Sebab, pada salah satu paket pembiayaan pasien rawat jalan, sering kali pembiayaan terbatas dan pelayanannya tidak berkualitas.

“Pasien harus bolak balik rumah sakit dengan kasus yang berulang seperti skrining, pemeriksaan laboratorium yang tidak bisa dilakukan dalam satu hari, hanya karena perilaku dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk memenuhi paket yang diberikan. Pengaruhnya, tentu pasien menjadi patah semangat untuk bisa sembuh,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *