Bisa Raup Pemilih Milenial, Potensi Menang Besar di Pemilu 2019

Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu
VIVA – Pemilu serentak 2019 punya momen khusus untuk pemilih milenial. Di pesta demokrasi yang dihelat 17 April 2019 itu, 57 persen pemilih merupakan dari kalangan milenial. Tak mengherankan, pemilih milenial jadi incaran untuk mengeruk suara.

Hal ini dibahas dalam diskusi bertajuk ‘Social Media, Millenial and Election: What’s Up?’. Calon anggota DPD RI, Muhammad Isra Ramli mengatakan, generasi milenial menjadi faktor determinan dalam momentum Pemilu 2019.

“Milenial menjadi faktor penentu. Jumlah pemilih milenial ini punya peranan karena jumlah mereka mayoritas,” kata Isra Ramli dalam keterangannya, Senin, 5 November 2018.

Isra mengatakan, kalangan milenial merupakan kategori psikografis yang basisnya perilaku. Bagi calon senator dari Kalimantan Utara itu, milenial menempatkan sosial media menjadi intrumen yang paling menentukan. Kini, kekuatan medsos harus diakui sebagai media yang penggunaannya makin meluas dan mudah dipercaya.

Dia setuju dengan anggapan para kandidat yang bisa merebut kaum milenial, maka ia akan menang di Pemilu 2019.

“Cara komunikasi yang paling efektif dengan generasi milenial adalah dengan saluran sosial media. Jadi, siapa kandidat yang menang di sosial media, maka ia akan menang,” ujar Isra yang juga pengamat kebijakan publik itu.

Sementara, Direktur IndexPolitica Denny Charter melihat, milenial punya peran penting untuk Pemilihan Presiden 2019. Di Pemilu 2019, pilpres akan digelar serentak dengan pileg.

Denny menilai, media sosial sudah menjadi instrumen penting bagi kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk membentuk opini politik.

Merujuk riset IndexPolitica, persaingan dua kandidat calon Presiden RI di sosial media cukup ketat. Menurut Denny, secara bergantian kedua pasang capres unggul di share of voice dalam satu bulan terakhir.

Sementara, pemberitaan dan pembicaraan capres Jokowi lebih mendominasi dibandingkan pasangannya cawapres Ma’ruf Amin. Adapun di satu sisi lagi, pemberitaan dan pembicaraan cawapres Sandiaga Uno lebih banyak ketimbang capres Prabowo Subianto.

Ia melihat dalam sisa waktu sekitar enam bulan lagi maka dua tim pasangan calon akan makin bergerilya di medsos. “Waktu tersisa 6 bulan lagi semua kemungkinan masih dapat terjadi. Mereferensi Pipres Amerika Serikat 2016 dan Pilpres RI 2014 yang lalu, di mana analisis sosial media bisa dijadikan sebagai second opinion barometer kontestasi Pilpres 2019 nanti,” katanya.

Adapun pengamat politik, Indra J Piliang menekankan, kekuatan media sosial yang dimainkan kaum milenial cukup mempengaruhi pilihan politik. Ia mencontohkan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Pilkada provinsi Jawa Barat dan Sudirman Said-Ida Fauziyah di Pilkada Jawa Tengah.

Bagi Indra, keberhasilan mendongkraknya suara dua pasangan selaras dengan kehebatan kampanye di media sosial. Kata dia, rekam jejak pertarungan sosial media di dua provinsi itu mencatat kehandalan akun-akun sosial yang mendukung kedua pasangan tersebut

“Teori betapa pengaruh media sosial dalam pilkada kurang dari 5 persen yang didapatkan lembaga-lembaga survei, seyogyanya ditinjau kembali,” ujarnya. (mus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *