Butuh 400 Marina, Indonesia Baru Punya Empat

Kapal pesiar Equanimity yang terparkir di perairan Selat Bali
VIVA – Indonesia menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan asing pada tahun 2019 mendatang. Untuk menunjang target tersebut faktor aksesibiltas, dalam hal ini infrastruktur menjadi penting.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono. Menurutnya, tidak hanya sekadar membangun pariwisata tapi juga infrastruktur untuk menjadikan pariwisata sebagai backbone atau tulang punggung ekonomi bangsa.

“Indonesia punya sumber pariwisata terbaik di dunia karena kita punya segalanya,” kata dia saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis, 8 November 2018.

Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian adalah pembangunan marina atau pelabuhan khusus untuk kapal pesiar. Hal itu mengingat hingga saat ini Indonesia baru memiliki tiga hingga empat marina yang belum semunya jadi. Padahal Indonesia membutuhkan sekitar 400 marina.

“Wisata bahari kita harus fasilitasi regulasi yatch (kapal pesiar), mengingat banyak yatch yang tinggal di Singapura atau Malaysia. Kalau kita ada marina, bayangkan ongkos tinggal minimal yatch itu US$100. Kalau musim libur mereka akan tinggal di Indonesia lebih dari seminggu bahkan sebulan,” tutur Agung.

Selain itu, juga pembangunan amenitas atau fasilitas di luar akomodasi yang bisa dimanfaatkan wisatawan yang akan mendukung target kunjungan. Penting juga melibatkan masyarakat lokal agar industri lain bisa tumbuh.

“Kadang ada satu industri enggak berjalan karena tidak bersatu dengan masyarakat. Yang bangun hotel kebanyakan masyarakat sekitar tidak ikut terlibat. Jangan sampai merasa industri datang hanya mengeruk kekayaan di sana tapi di sana masyarakat hanya menontoni,” kata dia.

Karena itu, menurutnya, harus ada regulasi yang mengatur hal tersebut agar tidak kacau. Tak hanya itu, pihak hotel yang menawarkan paket wisata kepada tamu hotel untuk mengunjungi destinasi di sekitar wilayahnya juga harus mengajak masyarakat sekitar masuk ke hotel untuk memamerkan kesenian atau pameran di sana.

“Ada hitungan untung rugi tapi ini perlu untuk membangun pariwisata Indonesia,” ucap Agung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *