Politikus PDIP Minta Isu Politik Genderuwo Tak Digoreng Lagi

Anggota Komisi I DPR RI Effendi Sakti Simbolon.
VIVA – Pidato Presiden Jokowi yang mengatakan adanya politik genderuwo menjadi perdebatan banyak elite belakangan ini. Pro kontra terus mencuat, bahkan banyak pengamat yang memprediksi penyebutan itu dilontarkan Presiden Jokowi untuk rival politiknya.

Kendati demikian, sampai hari ini belum ada penjelasan lebih dari Jokowi mengenai politik genderuwo ditujukan kepada siapa.

Politikus PDIP, Effendi Simbolon, pun berharap tidak ada lagi yang menafsirkan kata-kata Jokowi mengenai istilah yang dipakainya. Sebab, menurutnya hal itu biasa dalam berpolitik.

“Saya berharap tidak kita tafsir-tafsir lagi lah, ya sudahlah itu kan sebuah opini, ungkapan beliau. Sudahlah jangan kita kembangkan lagi. Apa pun maknanya, apa pun artinya hendaknya kita mengedepankan konten, mengedepankan subtansi, mengedepankan program,” kata anggota Komisi I DPR tersebut saat dimintai tanggapannya usai acara diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu, 10 November 2018.

Effendi pun berharap ke depan tidak ada lagi istilah-istilah yang keluar dari kedua belah pihak, baik dari pemerintah maupun kubu oposisi yang dapat meruncing perdebatan.

“Yang jelas untuk harapan untuk rakyat Indonesia, dua pihak ini supaya menghindari lah istilah-istilah yang mengundang komenter lain, apalagi di kalangan anak muda seloroh-seloroh yang mungkin diucapkan tidak seperti orang menafsirkan,” kata Effendi.

Menurut Effendi, lebih baik mengedepankan dialog yang membangun. Mengedepankan subtansi dan program apa yang akan dikerjakan oleh kedua pihak calon Presiden ini.

“Mari kita melakukan dialog dengan mengedepankan substansi dan program. Ada GBHN si calon-calon, apa platform-nya, goal-nya itu apa, kekurangannya apa, apa kebutuhan di 34 provinsi ini, apa kebutuhan sekian ratus juta masyarakat Indonesia ini,” kata Effendi.

Tidak hanya kepada para calon presiden dan calon wakil presiden, Effendi juga meminta kepada para juru bicara supaya tak memperkeruh situasi dan saling menyerang.

“Para juru kedua belah pihak juga enggak usah ikutan goreng-goreng topik isu yang enggak ada produktivitas bangsa ini. Jangan hanya di lima KPU saja ada perdebatan tapi juga di dialog-dialog lain,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyebut ada model politik genderuwo. Seperti apa itu? Jokowi menjelaskan, saat ini banyak politikus yang memengaruhi, tetapi tidak memiliki etika dan sopan santun.

Seusai membuat khawatir, lanjutnya, maka politikus itu melakukan propaganda ketidakpastian. Masyarakat digiring ke sana, yang akhirnya membuat publik jadi ragu dan muncul ketakutan.

Pola politik menakut-nakuti seperti itu, menurut Jokowi, adalah cara genderuwo. Dalam pemahaman luas, genderuwo adalah hantu yang membuat masyarakat jadi takut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *