Data IDAI, 212 Anak Indonesia Alami Gagal Ginjal

Ilustrasi tangan ibu dan anak .
VIVA – Menurut data global, prevalensi gagal ginjal tertinggi terjadi di kawasan Asia yaitu 51-329 jiwa per 1 juta populasi anak. Sementara itu, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan pada 2017 terdapat 212 anak dari 19 RS di Indonesia yang mengalami gangguan ginjal dan menjalani cuci darah.

Sejak tahun 2007 hingga 2009, RSCM menemukan 22 persen pengidap gagal ginjal pada anak, datang di saat sudah stadium akhir. Hal ini yang membuat kondisi gagal ginjal pada anak turut memicu kematian akibat peluang bertahan hidup yang rendah.

“Berdasarkan data IDAI tahun 2017, angka kematian pada anak yang alami gagal ginjal yaitu 23,6 persen. Anak yang alami gagal ginjal kronik dan sudah di stadium akhir, 30 kali lebih tinggi berisiko kematian dibanding populasi anak lainnya,” ujar UKK Nefrologi IDAI, dr Eka Laksmi Hidayat SpA(K), dalam temu media di Kemenkes RI, Selasa 13 November 2018.

Berdasarkan kronologis atau waktu terjadinya, gangguan ginjal pada anak terbagi menjadi dua, yaitu bawaan sejak lahir dan didapat setelah lahir. Gangguan ginjal bawaan sejak lahir umumnya ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih.

Sedangkan gangguan ginjal yang didapat setelah lahir biasanya ditandai dengan infeksi saluran kemih dan radang ginjal akibat berbagai proses yang bukan infeksi. Gangguan ginjal pada anak sendiri terbagi dua yaitu gangguan ginjal akut dan kronik.

Gangguan ginjal akut merujuk pada kondisi di mana ginjal anak mengalami kerusakan fungsi secara mendadak. Penyebabnya adalah penyumbatan sistem penyaringan ginjal oleh sel darah merah yang hancur, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, cidera atau operasi.

Kondisi gagal ginjal akut memiliki peluang yang cukup besar untuk bertahan hidup. Sementara, kondisi gagal ginjal kronis seringkali mengalami penurunan kondisi akibat gangguan ginjal dalam waktu lebih dari enam bulan, bahkan bisa seumur hidup.

“Penyebab paling banyak 16 persen akibat sindrom nefrotik atau penyakit ginjal bocor. Biasanya karena ada kebocoran protein di ginjal lalu terjadi dalam waktu lama yang menyebabkan gagal ginjal kronis,” ungkapnya.

Anak dengan gangguan ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi penyaringan kotoran, kontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Akibatnya zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna akan tetap tinggal dan mengendap dalam tubuh anak sehingga lambat laun membahayakan kondisi kesehatannya.

“Sehingga penting deteksi dini untuk mencegah semakin parahnya gangguan ginjal pada anak maupun mencegah komplikasinya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *