BPOM: Minum Rebusan Pembalut Perilaku Menyimpang

Ilustrasi pembalut.
VIVA – Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Abdul Rahim menilai temuan minuman dari air rebusan pembalut merupakan fenomena menyimpang. Menurut Abdul, meskipun pembalut tidak masuk kategori kosmetik dan bukan ranah BBPOM untuk membantu mengusut kasus ini.

“Sebenarnya kalau pembalut itu termasuk alat perbekalan kesehatan rumah tangga, jadi yang menjadi tanggungjawabnya Kementerian Kesehatan, jadi izinnya bukan di Badan POM. Cuma yang jelas itu praktik tidak benar menggunakan itu,” ujar Abdul di Bandung, Selasa 13 November 2018.

Fenomena menyimpang itu dinilai menjadi peringatan bagi instansi terkait untuk mengetahui motif mengkonsumsi air rebusan pembalut. Bahkan, fenomena tersebut tidak jauh berbeda dengan kebiasaan remaja yang suka menghisap lem.

“Tidak ada bukti ilmiahnya (dianjurkan minum) itu. Cuma namanya orang sekarang kan lem saja bisa jadi seperti itu, yang jelas itu perilaku yang keliru,” katanya.

“Memang isinya itu ada klorin, pemutih, bahan kimia. Harus diteliti lagi apa yang membuat mereka jadi ketagihan, yang jelas itu perilaku menyimpang, tidak benar,” imbuhnya.

Seperti diketahui, konsumsi minuman air rebusan dari rebusan pembalut wanita di Jawa Barat dinilai sudah mengkhawatirkan. Daerah perbatasan Jawa Barat dengan Jakarta dianggap sebagai lokasi aktif konsumsi air tersebut.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Barat, Brigjen Sufyan Syarif menjelaskan aktivitas tersebut merupakan modus baru dalam penyalahgunaan bahan kimia. Dari laporan yang diterima, kawasan Bekasi menjadi daerah paling aktif konsumsi minuman tersebut.

“Ini modus baru, perkampungan daerah Bekasi. Jawa Barat itu penyangga ibu kota ya, Bekasi banyak ya, Bogor, Karawang kemudian sampai ke Sukabumi, Bandung juga, ini perlu diperhatikan sampai Cirebon,” ujar Sufyan di Bandung Jawa Barat, Rabu 8 November 2018.

Bahkan, Sufyan mengakui, dari laporan yang diterimanya, wilayah perkampungan menjadi ruang aktivitas para peminum rendaman pembalut. “Ini menunjukkan bahwa narkoba itu sudah masuk ke daerah-daerah. Di kampung-kampung sudah banyak, di desa-desa, di gunung-gunung,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *