Nasib Penjual Atribut Timnas, Susah Dapat Duit karena Tiket Online

Barang dagangan Asep, penjual atribut Timnas Indonesia di Lapangan Blok S
VIVA – Dalam beberapa event, penjualan tiket Timnas Indonesia dilakukan lewat sistem online. Metode ini mendatangkan sejumlah manfaat bagi penonton, tapi ada juga sisi buruk yang muncul untuk sebagian kalangan.

Pedagang atribut Timnas Indonesia, mereka adalah kaum yang paling merasakan dampak dari sistem penjualan tiket secara online. Mengapa?

Selama ini, sistem perdagangan konvensional masih jadi andalan mereka. Mereka menjual barang dagangannya dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang menjual tiket timnas secara offline demi mencari nafkah.

Namun, dengan sistem penjualan tiket online, barang dagangan mereka sulit laku.

Asep, salah satu penjual atribut Timnas, curhat kepada VIVA. Selama 10 tahun berjualan, omsetnya belakangan menurun.

Saat dia mencoba menjajakan barang dagangannya di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, yang jadi lokasi ticket box laga Indonesia versus Timor Leste, penjualannya pun tak sesuai harapan.

“Waktu tiket dijual langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, ramai. Saya sudah jualan seperti ini sejak 2008, setiap Indonesia main. Sekarang, susah cari uangnya. Apalagi dalam kondisi seperti ini, yang beli tiket sepi, kami bagaimana mau jualan. Semua juga sudah beli online,” kata Asep, Selasa 13 November 2018.

Kondisi diperparah dengan sulitnya mencari lokasi berjualan. Sebab, tak di semua tempat pedagang kaki lima boleh berjualan.

Di kawasan Gelora Bung Karno saja, harus steril dari pedagang kaki lima. Selama beberapa kali tim VIVA meliput event Timnas di kawasan GBK, ada pun para penjual atribut Timnas dan sepakbola lainnya harus beroperasi di luar kawasan GBK, seperti depan kantor Kemenpora. (mus)

“Semua sekitar GBK steril. Paling, ada tempat di depan TVRI. Itu juga tempatnya terbatas,” ujar Asep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *