Tips Melamar Kerja untuk Milenial, Dijamin Enggak Ribet

Pencari kerja menyiapkan dokumen persyaratan lamaran kerja saat bursa kerja
VIVA – Transformasi digital yang sudah terjadi selama beberapa tahun belakangan ini mengubah tren para pencari kerja. Jika dahulu mereka mengandalkan iklan lowongan kerja di media cetak, kini mereka bisa memanfaatkan beberapa situs dan aplikasi yang menyediakan layanan tersebut.

Co-Founder and Chief Executive Officer Top Karir Indonesia, Bayu Janitra Wirjoatmodjo, sebelum melakukan konferensi pers menyempatkan diri untuk membagi beberapa tips umum mencari kerja di era digital.

“Tips pertama, harus cari platform yang dekat dengan aspirasi. Contohnya, kalau anak muda yang usianya kisaran 18-29 tahun, saya sarankan untuk menggunakan platform Top Karir Indonesia karena kita memang fokusnya ke milenial,” katanya kepada VIVA, Selasa, 13 November 2018.

Tips kedua adalah mengenai curriculum vitae (CV) atau daftar riwayat hidup. Milenial harus membuat CV yang mengacu pada kejujuran. Karena, menurut Bayu, saat ini banyak pencari kerja yang melakukan 'hal aneh', seperti saat mencantumkan nilai akademik yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Tips selanjutnya adalah aspek keahlian. Sebagian besar pencari kerja masih dibuat bingung dengan keahlian apa yang mereka miliki. Namun, di Top Karir, Bayu mengklaim jika mereka menyediakan fitur untuk menonjolkan keahlian.

“Di fitur ini anak muda bisa memasukkan keahlian mereka sehingga perusahaan merasa dimudahkan untuk memilah-milah. Mereka harus menentukan di mana keahlian mereka supaya fokus dan dapat diasah,” katanya.

Terakhir dan juga tidak kalah penting adalah hal yang harus disiapkan sebelum masuk dunia kerja, berorganisasi. Hal tersebut dirasa juga menjadi satu pengaruh besar.

Menurut Bayu, anak muda bisa memulai organisasi sejak mereka masih duduk di bangku sekolah, bahkan juga bisa dilakukan saat sudah mengenyam bangku kuliah.

Ia juga mengatakan bahwa anak muda sekarang tidak mencari kerja berdasarkan banyaknya gaji yang ditawarkan oleh perusahaan, mereka lebih mengutamakan perusahaan yang sedang tumbuh.

“Mereka ingin merasakan euforia dan pengalaman bekerja di perusahaan yang sedang tumbuh. Lebih dominan kelompok seperti itu dibanding yang mencari gaji besar,” ujar Bayu.

Bahkan, saat ini lulusan terbaik lebih banyak yang melamar pekerjaan ke sejumlah startup, berbanding terbalik dengan mereka yang memiliki impian bekerja di Badan Usaha Milik Negara. Hal ini menjadi salah satu indikator yang bagus bahwa milenial menyukai sesuatu yang dinamis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *