Harga Merangkak Naik, Bulog Diminta Gelontorkan Stok Beras

Pekerja mengangkut karung berisi beras stok Rasta/Raskin (beras untuk warga prasejahtera) di Gudang Bulog Serang, Banten
VIVA – Mulai menipisnya produksi beras di akhir tahun membuat harga kebutuhan pokok masyarakat ini perlahan mulai naik. Untuk itu, Bulog diminta segera gelontorkan beras simpanan lebih banyak ke pasar.

Mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono mengatakan, langkah Bulog yang lamban menggelontorkan beras simpanan stok hingga 2,4 juta ton ini justru menjadi pertanyaan.

“Buat apa simpan-simpan di gudang? Sekarang harusnya menggelontorkan. Apalagi saat ini Bulog kan sudah bebas melakukan operasi pasar sepanjang tahun,” ucap Anton dalam keterangannya dikutip Rabu 14 November 2018.

Ia menuturkan, berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) beras surplus 2,85 juta ton, namun stok di pasaran sangat pas-pasan hingga akhir tahun. Hal inilah yang memulai meningkatnya harga gabah di tingkat petani.

“Ada potensi kekurangan beras di akhir tahun. Kan tiap tahun selalu begitu, akhir tahun sampai Februari biasa ada kekurangan. Nggak ada surplus,” ujarnya menjelaskan.

Disebutkan Anton, stok di pasaran bisa berpotensi kurang karena catatan surplus yang dirilis BPS lebih banyak tersimpan di rumah tangga. Selain itu, data BPS juga menyebutkan adanya penyusutan luas lahan pertanian padi.

“Lahan nyusut, sementara tiap tahun ada pertumbuhan masyarakat sekitar 1,4 persen. Konsumsi pasti nambah. Jadi kekurangan ini sesuatu yang jelas,” kata Anton.

Hal surupa diungkapkan Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi. Menurut dia pihaknya butuh gelontoran beras Bulog lantaran harga beras medium di Pasar Cipinang sudah berkisar Rp9.100 per kilogram. Padahal normalnya, sekitar Rp8.700 per kilogram.

Besaran beras Bulog yang diharapkan mengalir ke Cipinang pun tidak bisa dibilang sedikit. Setidaknya diharapkan Bulog bisa menggelontorkan 5-7 ribu ton per minggu ke Pasar Beras Cipinang. Yang artinya dalam sebulan Bulog dikehendaki bisa mengucurkan 25-35 ribu ton beras medium.

“Lebih ke arah untuk menstabilkan harga lagi. Soalnya yang untuk beras premium memang naik. Jadi sekitar Rp9.100 per kilogram,” tegas Arief.

Untuk diketahui, saat ini harga beras medium di tingkat eceran memang sudah tinggi. Angkanya bahkan sudah melebihi anjuran HET pemerintah di nominal Rp9.450 per kilogram.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga beras medium terendah ada di Nusa Tenggara Barat, yakni Rp9.600. Padahal Jumat pekan lalu, harga beras medium masih Rp9.150 per kilogram.

Sedangkan, di provinsi lainnya, per Senin 9 November, harga beras medium sudah di atas Rp10.000 per kilogram. Harga beras medium tertinggi tercatat di Sumatra Barat yang sudah mencapai Rp14.650 per kilogram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *