Baiq Terpidana Kasus ITE Minta Hukuman Ditunda demi Ultah Anak

Baiq Nuril, mantan pegawai honorer di Mataram, saat menceritakan kasus yang menimpanya.
VIVA – Baiq Nuril, mantan pegawai honorer di Mataram, Nusa Tenggara Barat, terancam dipenjara lagi, setelah Mahkamah Agung memutuskan dia bersalah. Mahkamah mengabulkan permohonan kasasi penuntut umum Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat, dengan menjatuhkan vonis bersalah terhadap Baiq Nuril pada 12 November 2018.

Mahkamah memvonis Nuril bersalah melanggar pasal 27 ayat 1 Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), karena dianggap menyebarkan informasi elektronik yang mengandung muatan asusila.

Baiq sebenarnya sudah bebas atas putusan Pengadilan Negeri Mataram pada 2017. Tetapi, berdasarkan putusan Mahkamah itu, dia harus dipenjara dengan hukuman kurungan selama enam bulan dan denda Rp500 juta. Jika pidana denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Nuril berharap, tidak dieksekusi menjelang ultah tahun kedua buah hatinya pada 24 dan 26 November 2018. “Tanggal 24 dan 26, anak saya nomor tiga dan dua Ultah. Saya minta diberikan kesempatan untuk hadir di hari bahagia mereka,” ujarnya, saat ditemui di Mataram pada Rabu 14 November.

Nuril menceritakan putusan kasasi itu didengar pada 9 November. Dengan menahan tangis, dia berusaha menenangkan anaknya yang kaget mendengar kabar bahwa dia akan dipenjara.

“Saya bilang sama anak saya, kalau besok ibu mau sekolah dulu (dipenjara). Saya nasihati mereka, jangan nakal selama ibu tidak di rumah,” ujarnya

Gara-gara rekaman

Berdasarkan fakta persidangan di Pengadilan Negeri Mataram, Nuril yang juga mantan staf SMAN 7 Mataram, tidak menyebarluaskan rekaman mesum sang kepala sekolah, Muslim. Rekaman itu ditransmisikan dan didistribusikan oleh seorang rekannya bernama Imam Mudawin.

Muslim saat itu menelepon Nuril dan berbicara tentang hubungan intim dengan Nuril. Tidak tahan diperlakukan seperti itu, Nuril pun merekam percakapan atasannya.

Saat Nuril bertemu Imam Mudawin, tanpa diketahui rekaman itu didistribusikan atau dikirim oleh Imam dan lalu menyebar luas. 

Baiq Diyah Ratu Ganefi, seorang anggota Dewan Pewakilan Daerah yang turut mengadvokasi Nuril, berjanji memperjuangkan Nuril tidak dipidana. “Kita akan mempelajari alasan Mahkamah Agung, dengan hak bertanya alasan menjerat Baiq Nuril,” ujarnya

Diyah mendorong DPD RI turut aktif membela korban pelecehan seksual dan menyoroti Undang-undang ITE yang mengekang kebebasan berpendapat dan menyuarakan kebenaran seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *