Hemat Biaya dan Waktu, Mengapa Perusahaan RI Belum Pindah ke Cloud?

Ilustrasi cloud.
VIVA – Lembaga riset pasat global, International Data Corporation atau IDC, memprediksi bahwa dua sampai tiga tahun ke depan hanya 20 persen perusahaan asal Indonesia yang melakukan transformasi digital ke arah cloud.

Praktisi teknologi informasi (IT) dalam perusahaan cenderung kewalahan untuk menjaga kecepatan dalam penerapan teknologi digital terbaik yang dapat memenuhi tuntutan dan harapan pelanggan yang secara dinamis terus berkembang.

Bicara transformasi digital, Kepala Eksekutif Telkomtelstra, Erik Meijer mengaku, tidak hanya Indonesia tetapi semua perusahaan di dunia harus memperhatikan biaya operasional yang tinggi dibandingkan kompetitor yang masih terhitung baru.

“Kompetitor baru jadi challenge. Masalahnya adalah banyak perusahaan yang takut pindah ke cloud karena masalah keamanan, regulasi, dan kemampuan sumber daya manusia yang paham soal cloud masih minim,” kata Erik di JW Marriot Hotel, Jakarta, Rabu, 14 November 2018.

Padahal, dengan menggunakan cloud, biaya operasional bisa ditekan hingga 73 persen. Sedangkan, kalau dilihat dari penghematan waktu bisa mencapai 80 persen. Saat ini bukan hanya konsep bisnis saja yang mengalami banyak perubahan tapi keseluruhan industri juga sudah berubah.

“Kalau sudah menggunakan cloud kita bisa mengurangi kebutuhan IT. Nanti, tim IT bisa dialihtugaskan untuk melakukan transformasi digital lainnya. Mereka tidak lagi mengerjakan hal-hal dasar namun membantu meningkatkan kesuksesan bisnis perusahaan,” tegasnya.

Erik juga mengklaim bahwa cloud milik Telkomtelstra sudah seusai dengan regulasi Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transparansi Elektronik, sebelum maupun sesudah revisi. Bahkan mereka telah mengantongi sertifikasi ISO 27001.

Adapun lokasi data center layanan cloud Telkomtelstra berada di Serpong dan Sentul, keduanya di Banten, serta berikutnya akan dibangun di Surabaya, Jawa Timur. Tak hanya itu, Erick mengumumkan kolaborasi dengan lima mitra SD-WAN yaitu Cisco (Viptela, Meraki), VM Ware (VeloCloud), Fortinet, Riverbed, dan secara resmi meluncurkan solusi SD-WAN.

“Inovasi SD-WAN merupakan cara transformasi baru untuk mengoperasikan WAN perusahaan dalam mengelola konektivitas berbagai kantor cabang, terutama yang berjarak jauh atau pun remote lewat aplikasi realtime yang hemat biaya,” papar Erik.

Pada kesempatan yang sama, Senior Research Manager for Consulting and Heads of Operations IDC Indonesia, Mevira Munindra memperkirakan, dengan implementasi SD-WAN, perusahaan akan mampu beradaptasi dengan efektif.

Untuk lanskap bisnisnya, lanjut Mevira, perusahaan akan mampu memiliki lebih dari dua kali lipat tingkat pertumbuhan pendapatan, retensi pelanggan dan pertumbuhan laba. “Ini relatif terhadap perusahaan yang dengan hanya parsial atau tidak ada keselarasan digital,” katanya.

Mevira mencontohkan Bank DBS yang telah menggunakan cloud, selain Telkomtelstra. Ia menuturkan bank asal Singapura itu mampu mendeteksi fraud atau penipuan dalam waktu dua minggu, dari sebelumnya tidak memakai cloud yang bisa sampai tiga bulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *