Bank Mandiri Akan Naikkan Bunga Kredit Tahun Depan

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo
VIVA – Perbankan mulai mengambil ancang-ancang untuk menaikkan suku bunga kredit. Itu sebagai bentuk respons terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 day reverse repo rate, yang saat ini sudah mencapai enam persen.

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoadmodjo memastikan, perseroan akan kembali menaikkan suku bunga kredit pada Januari 2019 mendatang. Meski, dia mengaku kenaikan suku bunga acuan BI belum terlalu berdampak terhadap Bank Mandiri.

“Masih sangat minimum (pengaruhnya), mungkin kita akan penyesuaian ke kredit signifikan di Januari nanti,” kata dia, saat ditemui di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Jumat 16 November 2018.

Saat ini, suku bunga dasar kredit Bank Mandiri sendiri di kisaran 9 – 17,75 persen. Di mana, berdasarkan segmen bisnisnya, kredit korporasi sebesar 9,95 persen, kredit ritel 9,95 persen, kredit mikro 17,75 persen, kredit konsumsi untuk kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 10,25 persen, dan non-KPR sebesar 12 persen.

“Jadi, kita akan melihat kemampuan bayar nasabah maupun kemampuan pertumbuhan kredit juga, karena kita ingin lihat kalau kita naikkan sekian basis poin dampaknya ke pertumbuhan, dan kemampuan bayar seperti apa,” tutur dia.

Meski begitu, Kartika menilai, pada dasarnya kenaikan suku bunga acuan yang dinaikkan 175 basis poin itu pada tahun ini, merupakan langkah yang tepat dalam menghadapi gejolak perekonomian global yang masih tidak menentu, akibat pengaruh percepatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, tren kenaikan suku bunga acuan bank sentral global, hingga perang perdagangan.

“Jadi, kenaikan suku bunga ini saya rasa tepat, karena memang kita perlu untuk front loading dan perlu lakukan antisipasi, dan karena kita tahu The Fed akan menaikkan dua sampai tiga kali, dan memang kita harus manage defisit transaksi berjalan kita, agar akhir tahun bisa turun di bawah tiga persen atau mendekati tiga persen,” ucapnya.

“Jadi, saya rasa peningkatan suku bunga ini diperlukan untuk menjaga portofolio inflow yang saat ini mulai baik di bonds dan equity terus terjadi. Nanti, berangsur-angsur penguatan rupiah bisa terus berlanjut sampai tahun depan,” tutur pria yang akrab di sapa Tiko itu menambahkan. (asp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *