Anucha Bocah 13 Tahun Tewas di Ring Kickboxing Demi Cari Uang

Anucha Thasako meninggal dunia setelah bertanding. Ia mengalami knock out dan pendarahan otak. – AFP/Getty Images
Kickboxing kembali memakan korban di Thailand, kali ini seorang anak berusia 13 tahun.

Anucha Thasako, nama petinju belia yang meninggal tersebut, menghembuskan napas terakhirnya setelah dipukul jatuh di atas ring dalam pertandingan pada 11 November.

Thasako mengalami pendarahan otak dan kemudian meninggal dunia. Lawan yang menjatuhkannya juga masih belia, berusia 14 tahun.

Kasus ini memicu sejumlah kalangan mendesak pemerintah menerapkan pengetatan atas olahraga ini.

Mereka meminta usia minimal untuk pertandingan adu jotos ini 18 tahun.

Bahkan para penggemar kickboxing pun melempar wacana untuk tidak lagi melibatkan anak-anak kecil.

Diperkirakan terdapat setidaknya 10.000 anak yang menekuni olahraga ini di seluruh Thailand dan mereka bertanding secara reguler.

Thasako sendiri sudah 170 kali naik ring sebelum meninggal dunia.

Di Thailand sebenarnya sudah ada peraturan teknis tentang pertandingan kickboxing atau yang juga dikenal dengan Muay Thai ini. Sayangnya ada banyak celah di peraturan tersebut.

“Jika sistem peraturan yang ada dicermati, ada celah hukum yang membuat anak-anak bisa dilibatkan dalam olahraga ini,” kata Preeyakorn Rattanasuwan, perempuan yang berprofesi sebagai promotor tinju.

“Peraturan tidak secara jelas mengatur tentang periode rehabilitasi setelah turun bertanding. Demikian juga soal pendaftaran petinju yang tidak diatur secara terperinci,” kata Rattanasuwan.

Thawee Ampornmaha, sekjen asosiasi tinju, kepada BBC Sport mengatakan, bahwa kickboxing harus mengambil pelajaran dari tewasnya Thasako.

Asosiasi harus menerbitkan aturan teknis kapan mestinya pertandingan harus dihentikan. Ia juga mengusulkan perlunya menerapkan ilmu olahraga dan perlengkapan untuk memberikan perlindungan yang lebih besar kepada petinju.

Meski begitu, peraih medali perak Olimpiade ini tidak setuju jika pemerintah mengeluarkan larangan bertanding bagi petinju di bawah usia 12 tahun.

Ia beralasan, 99% petinju dan petinju Olimpiade “memulai laga sejak masih anak-anak”.

Ia mengatakan mulai bertanding pada usia 12 tahun dan terjun di lebih dari 200 pertarungan.

Thasako tidak mengenakan perlengkapan yang melindungi kepala saat bertanding. – Getty Images

“Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah memiliki aturan keselamatan yang mencukupi? Kita harus fokus ke persoalan ini. Jujur saja, saya tak tahu upaya praktis apa yang bisa diambil,” katanya.

Menurut situs surat kabar The Khaosod, Thasako turun di 170 pertandingan sejak usia 8 tahun.

Jika diambil rata-rata, ia bertarung 34 kali dalam setahun dan hanya punya waktu istirahat 11 hari sebelum terjun di pertandingan berikutnya.

Ini bertentangan dengan undang-undang tinju yang dikeluarkan pada 1999 karena regulasi memerintahkan periode istirahat sebelum kembali bertanding adalah 21 hari.

UU yang menyebutkan, jika seorang petinju kalah, ia harus menunggu 30 hari sebelum naik ring lagi.

Sedangkan petinju yang mengalami cedera kepala dua kali harus beristirahat selama 90 hari dan harus mendapatkan izin dokter.

“Benar bahwa kami memiliki undang-undang, namun persoalannya adalah penegakkan undang-undang tersebut,” kata promotor tinju Natthadech Wachiraratanawong.

Ia juga mengungkapkan asosiasi tinju kekurangan pengurus yang bisa membantu memastikan aturan diikuti oleh para penyelenggara pertandingan.

“Tak cukup satu orang mengurusi pertandingan di seluruh provinsi,” katanya.

Ini membuat para promotor menggelar pertandingan begitu saja, tanpa mengurus izin ke asosiasi tinju.

Para pakar yang meneliti dampak tinju bagi anak-anak mengatakan bahwa olahraga ini berpengaruh buruk terhadap otak.

Tinju juga merusak otak mereka, kata peneliti.

Dalam satu kasus, dokter menemukan bahwa usia petinju dalam pertandingan yang tidak resmi adalah empat tahun.

Sering kali, dalam satu pertarungan, anak-anak mengalami pukulan di kepala 20 kali dan mereka tidak mengenakan perlengkapan pelindung.

Pelarangan total sulit diterapkan karena orang tua tergiur dengan uang hadiah.

Tewasnya Thasako sendiri mendorong Badan PBB, UNICEF, menyerukan pemerintah Thailand untuk melindungi anak-anak dari olahraga ini.

“Kita harus melihat mereka sebagai anak-anak, bukan sebagai petinju,” kata UNICEF Thailand melalui Twitter.

“Kepada pihak keluarga, UNICEF berbela sungkawa atas kepergiannya. Kami mendesak pihak berwenang untuk menyusun regulasi yang bisa memberikan perlindungan maksimal kepada anak-anak,” kata UNICEF.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *