Mycotech di Bandung, Ubah Jamur Jadi Bahan Bangunan

Jamur putih yang tumbuh itu berfungsi sebagai bahan perekat, persis seperti di tempe. – BBC NEWS INDONESIA
Di sepanjang jalan di Desa Pakuhaji di Bandung Barat, tempat markas Mycotech, perusahaan pembuat material bahan bangunan dari jamur, tampak banyak produsen jamur rumahan.

Para pendiri Mycotech pun tadinya pengusaha jamur yang kemudian berpikir untuk mengolah baglog atau medium tanam jamur yang dalam produksi jamur akan berakhir menjadi limbah.

“Dari situ kita punya ide, karena kita melihat makanan yaitu tempe,” ungkap Arekha Bentangan dari Mycotech.

“Tempe itu dia menggunakan jamur yang ditumbuhkan di atas kedelai. kita menggunakan prinsip yang sama tapi kita ganti jamurnya kemudian kedelainya kita ganti menjadi substrat yang menggunakan limbah dari pertanian. Dari situ kita dapat ide kalau kita punya potensi untuk menghasilkan material yang kuat dari proses yang meniru metode pembuatan tempe tadi,” papar Arekha.

Jamur yang dimaksud adalah mycelium. Namun, penggunaan mycelium sebagai medium perekat sendiri bukanlah sesuatu yang baru.

“Dari tahun 70-an memang ada referensi yang mengatakan bahwa mycelium ini mengikat material. Cuman orang yang memanfaatkan material ini untuk diaplikasikan terutama material bangunan, saya pikir mungkin kita salah satu yang pertama di Indonesia, mungkin bahkan di dunia,” ujar Arekha.

Dengan perekat berbahan dasar jamur, material bangunan yang diciptakan pun diklaim lebih ramah lingkungan.

Arekha menjelaskan bahwa kebanyakan produk papan kayu seperti dan MDF (Medium-density fibreboard) menggunakan perekat sintetis yang disebut resin sintetis. Resin ini berbasis bahan kimia buatan yang mengandung formaldehyde sebagai salah satu bahannya.

“Itu mengemisikan formaldehyde gas, gas formalin, yang kurang baik untuk kesehatan apabila dihirup untuk jangka waktu yang panjang. Dan negara-negara di Eropa sekarang ini sudah membatasi penggunaan formalin di material untuk furniture, untuk di rumah,” jelas Arekha.

“Bahkan mereka sudah mulai melarang dan mereka mencari alternatif lain untuk menggantikan perekat resin tadi. Dan saya pikir ini sangat pas untuk dijadikan solusi untuk masalah tersebut,” imbuhnya.

Uji coba pertama kali dilakukan pada 2013, setelah dua tahun, Arekha baru bisa menemukan prototipe yang dianggap memuaskan.

Proses pembuatan Mycotech dimulai dari pembibitan jamur. Serbuk kayu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang disebut baglog dan kemudian disterilisasi dengan merebus baglog selama satu hari.

Kemudian baglog itu diberikan bibit dan diinkubasi di ruangan lembap dan minim cahaya. Setelah itu, isi baglog berupa serpihan sebuk kayu yang sudah bercampur dengan mycelium dihancurkan di dalam wadah dan dimasukkan ke dalam cetakan berukuran 30x30cm sehingga berbentuk seperti lempengan.

Kemudian lempengan itu dibiarkan hingga seluruh permukaannya memutih seperti tempe. Lempengan itu lalu diproses lebih lanjut, namun Arekha dan timnya menolak untuk menjelaskan lebih detail karena menjadi kunci pembuatan panel dari jamur ini.

Aplikasi penggunaan panel 30x30cm Mycotech, sejauh ini belum banyak. Hanya dapat digunakan menjadi panel dinding (wall panel) dan dapat dikembangkan menjadi mebel, juga peredam akustik untuk studio musik dan insulator ruangan saat musim panas.

Tujuan Arekha dan teman-temannya untuk menciptakan alternatif pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, mungkin butuh penelitian lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *