Cara Jitu Pemerintah ‘Hidupkan’ Wisata Adat Gurusina

kampung adat megalitikum Gurusina di Desa Watumanu.
VIVA – Pariwisata Kampung Adat Gurusina di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kembali dibangun. Seperti diketahui, pada Senin 13 Agustus 2018, tempat wisata kondang di NTT itu mengalami peristiwa kebakaran.

Pemulihan kepada Kampung Adat tersebut pun dilakukan oleh pemerintah. Kementerian Sosial (Kemensos) salurkan bantuan sebesar Rp2,2 miliar, guna membangun kembali kampung adat megalitikum Gurusina di Desa Watumanu tersebut.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat mengatakan, bantuan itu untuk mengembalikan kampung Gursina sebagai tempat destinasi wisata. Pembangunan kembali rumah adat warga Kampung Gurusina, tetap disesuaikan dengan arsitektur desa adat yang sesuai dengan keinginan masyarakat adat setempat.

“Kita harus mempertahankan keberadaan kampung ini sebagai tempat tujuan wisata. Untuk itu, rumah-rumah di sini harus dikembalikan seperti semua. Saya tadi ke kampung adat Bena, menggambarkan bagitu bagusnya kampung itu,” ucap Harry melalui keterangan tertulisnya kepada VIVA, Senin 19 November 2018.

Harry mengaku kampung adat Gurusina sangat terkenal di seluruh dunia, karena merupakan peninggalan budaya yang harus dilestarikan.

“Ini kampung adat Megalitikum. Saat ini kebakaran sudah terjadi maka langkah untuk membangun kembali mesti dilakukan,” tambahnya.

Dinas Sosial Provinsi bergerak cepat melaporkan ke Kementerian Sosial mengenai kebakaran tersebut. Kecepatan ini, dikatakan Harry, membuat respons pemerintah juga semakin cepat membantu untuk warga Gursina dalam memenuhi kebutuhan dasar dan membangun hunian sementara.

Bantuan Kementerian Sosial tersebut terdiri dari Bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR) untuk 33 unit/keluarga sebesar Rp825 juta, Bantuan Isi Hunian Sementara itu, untuk 27 keluarga sebesar Rp81 juta Bantuan Keserasian Sosial Kampung Gurusina sebanyak tiga paket sebesar Rp150 juta Bantuan RS-RTLH untuk tujuh kelompok sebesar Rp1,05 miliar.

Menurut Harry, penyaluran bantuan secara non tunai ini, sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Sosial bahwa penyaluran bantuan sosial harus terpadu melalui kartu kombo. Dengan demikian kata dia, bagi korban yang memenuhi kriteria akan dapat menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Beras Sejahtera (Rastra), dan bansos lainnya.

 Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat di NTT

“Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia telah menerapkan sistem perlindungan sosial yang adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Ia menambahkan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Sosial Provinsi NTT, secara keseluruhan rumah adat yang berada di Kampung Gurusina berjumlah 33 unit, satu pos pariwisata, dan beberapa situs-situs adat didalamnya.

Situs-situs tersebut yaitu tiga buah kayu Ngadu (Tiang Adat yang melambangkan wujud laki-laki) dan tiga Rumah Bhaga (Rumah Adat minimalis selaku simbol perempuan yang berfungsi sebagai tempat untuk memberikan sesajian kepada nenek moyang pada saat upacara adat). Sebanyak 27 rumah adat hangus terbakar, tiga buah Ngadu dan tiga buah Bhaga juga ikut terbakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *