Pemerintah Dituding Pro Asing, Luhut: Suruh Datang ke Saya, Asbun Saja

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan
VIVA – Kebijakan pemerintah yang membebaskan 54 bidang untuk dikuasai atau diinvestasikan 100 persen oleh asing, dianggap banyak kalangan semakin mencerminkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pro dengan pelaku usaha asing.

Hal itu, karena 54 bidang usaha yang dilepas dari daftar negatif investasi (DNI) itu adalah bidang usaha yang tergolong kecil menengah. Mulai dari perdagangan eceran, warung internet, industri percetakan kain, hingga jasa survei.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menilai, anggapan tersebut sangat tidak berdasar. Lantaran, 54 bidang usaha itu dibuka, agar investasi asing bisa masuk dengan konsep bermitra atau join dengan pelaku usaha di bidang itu, sehingga bisa memperkuat investasi.

“Ya, tergantung dia mau berapa. Mana kau mau saya ambil 100 persen, enggak mau juga kan. Karena, di mana-mana negara berlaku itu. Membuka saja, biar dampaknya investasi masuk,” kata dia, saat ditemui di kantornya, Senin 19 November 2018.

Karena itu, Luhut menegaskan, dugaan pemerintah yang pro asing karena melepas 54 bidang usaha dari DNI tersebut, merupakan dugaan orang-orang yang tidak memahami konsep investasi. Sehingga, dia berharap bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang punya anggapan demikian.

“Suruh dia datang ke saya, asbun (asal bunyi) saja. Kita tahu lah batas-batasannya. Kita enggak mau lah begitu. Memang, dia saja yang paling nasionalis? Datang ke mari ngomong,” ujarnya.

“Jangan asal ngomong. Kita ngitung semua itu dengan cermat. Pak Darmin (Menko Perekonomian) itu kurang apa. Kalau orang sederhana dari Pak Darmin, siapa yang lebih sederhana, kau lihat dia. Masa dia mau begitu. Beliau pintar kok bidangnya, kami di brief bagus kok,” tambahnya.

Di samping itu, Luhut juga menegaskan, kebijakan yang ditujukan sebagai alat untuk menekan devisit transaksi berjalan yang terus mengalami pelebaran itu memang tidak bisa langsung sebulan menekan defisitnya. Lantaran, sudah bertahun-tahun pohon industri Indonesia tidak terintegrasi dan saling mengisi satu sama lain, sehingga impor pemenuhan bahan bakunya atau barang modal selalu besar.

“Sekarang di Morowali, kita buat terintegrasi. Kemudian di Wedabe, mulai terintegrasi dari tambangnya, listriknya, smelter-nya, pelabuhannya, jadi cost-nya rendah. Akibatnya, kita akan jadi pengekspor stainless steel 20 persen dari dunia tiga tahun ke depan,” ujar Luhut. (asp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *