Tips dari Fotografer Memotret Bayi Baru Lahir

Fotografi bayi baru lahir
VIVA – Newborn Photography atau fotografi bayi baru lahir, kini menjadi tren di Indonesia. Tak hanya kalangan selebriti, masyarakat awam pun banyak yang mengabadikan wajah dan tubuh mungil sang buah hati dalam sebuah foto.  

Bagi fotografer profesional, minat masyarakat tersebut banyak dimanfaatkan sebagai lahan bisnis. Salah satunya, Lucia Hartanto, founder Baby Props. 

“Karena saya melihat banyak parents yang  menanti-nantikan bayinya, ada beberapa pasangan yang berjuang untuk mempunyai bayi. Dan saya ingin untuk membantu mengabadikan momen-momen tersebut,” katanya dalam acara Props Market & Newborn Photography Workshop di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, Selasa, 20 November 2018.

“Bayi itu adalah satu hadiah terindah yang diberikan Tuhan, dan kita mau memberikan dari properti yang terbaik,” katanya menambahkan.

Tak seperti memotret orang dewasa yang sudah mengerti arahan fotografer, mengambil objek bayi menghadirkan tantangan tersendiri. 

“Karena bayi tidak bisa diatur dan disuruh senyum. Nah, itu tantangan dan teknik sangat dibutuhkan,” kata Lucia.

“Kemudian dari pose-pose juga akan memengaruhi  foto bayi tersebut, karena bayinya masih lentur dan sebagainya, maka perlu teknik dalam membentuk, mempose bayinya agar terlihat lucu. Karena kalau pose dan tekniknya salah, maka itu akan terlihat pada hasil foto,” sambungnya.

Selain itu, usia dan kondisi bayi pun harus benar-benar pas. “Kondisi bayi, harus dalam keadaan kenyang, karena kalau tidak kenyang maka dia nanti akan rewel,” katanya.

“Usia yang pas itu sekitar 6-12 hari saja. Kenapa begitu? Karena bayi jika lebih dari 12 hari maka dia akan rewel, karena dia sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, kemudian yang kedua adalah, dia mulai susah untuk di tekuk-tekuk,” terangnya.

Selain beberapa langkah di atas, Lucia menjelaskan teknik dalam pemotretan bayi baru lahir. 

“Iya teknik pose, teknik bebet atau wrapping, kemudian ditaruh, dan teknik menenangkan bayi. Karena kalau fotografernya tidak dibekali dengan ilmu atau teknik yang baik, mereka akan sayang beli props yang mahal,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *