Pemilu 2019, Efek Ekor Jas dan Kuburan Parpol

Ilustrasi
VIVA – Pemilu 2019 akan menjadi catatan sejarah. Untuk kali pertama, pemilihan legislatif (pileg) dan Pemilihan Presiden atau pilpres digelar serentak. Menjadi perhatian di pileg, 16 partai politik lama dan baru akan berebut kursi di parlemen.

Namun, bukan perkara mudah berebut jatah 575 kursi di DPR RI. Selain parliamentary threshold atau ambang batas lolos parlemen minimal 4 persen, kekuatan parpol lama mesti bersaing dengan parpol baru.

Selain itu, perhelatan serentak menuntut parpol mesti berbagi strategi antara pileg dan pilpres. Hal ini berlaku terutama untuk parpol lama dalam memainkan strategi saat kampanye. Pileg 2019 akan menjadi pertaruhan kiprah parpol.

Bila gagal lolos tembus angka 4 persen maka tak ada suara parpol di DPR RI. Maka, setiap parpol terutama yang lama akan mati-matian mempertahankan eksistensinya di parlemen.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (Median), Rico Marbun menganalis Pemilu 2019 yang digelar serentak menjadi keuntungan bagi parpol yang mengusung tokohnya sebagai capres. Di Pilpres 2019, ada dua calon presiden yang akan bersaing berebut kursi takhta RI-1.

“Karena serentaknya Pemilu 2019, partai yang tak punya tokoh maju di pilpres akan mengalami kerugian,” kata Rico kepada VIVA, Selasa, 20 November 2018.

Capres nomor urut 1 Joko Widodo dan Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto.Capres nomor urut 01 Jokowi dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto

Baca: Demokrat: Cuma Kami yang Jujur Potensi Almarhum di Pileg 2019

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengatakan merujuk lembaga survei, teori efek ekor jas atau coattail effect hanya dimiliki parpol yang punya kader menjadi capres. Artinya, mengacu hal ini, maka PDIP dan Gerindra diuntungkan.

Jokowi selaku capres petahana nomor urut 01 merupakan kader PDIP. Adapun capres nomor urut 02, Prabowo Subianto adalah Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto. Begitupun cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno yang melekat dengan Gerindra. Meski eks Wakil Gubernur DKI itu diklaim sudah mundur dari Gerindra.

Coattail effect hanya dimonopoli partai yang bisa usung capres atau cawapres sendiri. Itu hukum alam politik. Terbukti, temuan sejumlah survei mengkonfirmasi hanya PDIP dan Gerindra yang suaranya melambung jauh di awan,” jelas Adi kepada VIVA, Selasa, 20 November 2018.

Baca: PDIP Vs Gerindra Diramal Bersaing Ketat di Pileg 2019

Mesin parpol selama kampanye menjadi salah satu kunci parpol untuk menarik suara pemilih. Menurut Adi, berbeda dengan parpol yang sudah punya mesin partai dan pemilih loyal seperti Golkar. Partai berlogo Pohon Beringin ini diprediksi tetap lolos meski tanpa kecipratan coattail effect dari Jokowi.

“Golkar itu karena mesin politik dan pemilih tradisionalnya sangat solid, bukan karena berkah efek ekor jas,” tutur Adi.

Kuburan Parpol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *