Siap-siap Berubah dari Energi Fosil ke EBT, RI Belajar ke Jerman

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana.
VIVA – Kerja sama Indonesia-Jerman di bidang energi baru dan terbarukan, sudah terjalin selama 25 tahun. Hubungan ini, diharapkan dapat terus dijaga, bahkan terus ditingkatkan ke depannya. 

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengatakan, partisipasi swasta di bidang energi baru dan terbarukan sangat dibutuhkan. Khususnya, membangun infrastruktur EBT di pulau-pulau yang tersebar di Indonesia. 

“Sudah 25 tahun kita ber-partner, saya berharap Jerman masih terus mengembangkan renewable energy di Indonesia,” ujar Rida di acara 2018 Indonesian-German Renewable Energy Day di Jakarta, Rabu 21 November 2018. 

Ia menjelaskan, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh di atas lima persen setiap tahun, pertumbuhan listrik pun terus bertambah. Namun, untuk memenuhi kebutuhan listrik itu, pemerintah harus berupaya untuk mengoptimalkan pengembangan EBT, karena energi fosil terbatas. 

“Pak menteri selalu menyampaikan bahwa kita sangat menyadari dan sangat setuju EBT dikembangkan,” katanya. 

Tantangan yang perlu dijawab saat ini, lanjut Rida, bukan hanya ketahanan energi ataupun kemandirian energi. Melainkan, bagaimana mempercepat proses transisi energi fosil Indonesia kepada energi baru dan terbarukan. Hal ini sudah dilakukan dengan baik oleh Jerman, dan dapat dijadikan contoh. 

“Apa yang dialami Jerman dan Denmark, yang sangat cepat berubah dari fosil ke EBT, meskipun awalnya gagal. Indonesia ingin sekali seperti itu, meskipun kondisi geografis masih berbeda dengan kita. Tetapi, salah satu yang bisa kita ambil adalah teknologi, termasuk smart grid,” ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, juga ditandatangani nota kesepahaman atau MoU antara Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) dan Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) dengan perusahaan asal Jerman, Bundesverband Solarwirtschaft e.V. yang bergerak di bidang pengembangan PLTS Atap atau Rooftop. 

Kerja sama ini dilakukan sebagai landasan untuk perencanaan kemitraan lebih lanjut antara asosiasi Indonesia dan Jerman. Khususnya, terkait peningkatan SDM asosiasi, pengembangan pedoman standar keselamatan dan penerapan teknologi serta advokasi dalam kebijakan, peraturan, dan insentif energi terbarukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *