Industri Pembiayaan Tak Takut dengan Fintech, Ini Alasannya

Ilustrasi fintech.
VIVA – Otoritas Jasa Keuangan mencatat ada 73 perusahaan teknologi keuangan berbasis pinjam-meminjam atau fintech peer-to-peer (P2P) lending yang sudah terdaftar hingga September 2018.

Sementara itu, sampai September 2018, akumulasi jumlah pinjaman fintech mencapai Rp13,8 triliun. Angka ini meningkat 439,06 persen secara year to date (ytd).

Artinya, penyaluran P2P lending meningkat signifikan dari Desember 2017 yang hanya Rp2,56 triliun. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau NPL fintech P2P lending mencapai 1,20 persen.

Nilai tersebut meningkat dibandingkan Desember 2017 yang berada di bawah satu persen, atau tepatnya 0,99 persen.

Regulator industri jasa keuangan Indonesia ini menyebut industri pembiayaan atau multifinance masih menggunakan 'jurus lama' dalam menawarkan pembiayaan kepada calon nasabah.

OJK menilai fintech memakai strategi yang lebih kompetitif, sehingga mampu mencatatkan pertumbuhan yang cepat, meskipun baru berkembang pada lima tahun terakhir.

Unsecured

Di mata Direktur Keuangan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk, Zacharia Susantadiredja, meski dalam beberapa tahun ini layanan pinjaman online itu marak, tetapi keberadaannya belum berdampak signifikan terhadap bisnis perusahaan hingga sekarang.

“Ada beberapa keunggulan kita yang tidak dimiliki fintech P2P lending. Mereka itu unsecured alias tidak ada jaminan. Kita ada, kalau enggak motor ya mobil,” kata Zacharia kepada VIVA, Rabu, 21 November 2018.

Kemudian, kelebihan lainnya terletak di collection dan surveyor. Keduanya tidak dipakai oleh fintech, meskipun mereka mengaku telah memakai big data untuk mengumpulkan serta mempelajari perilaku konsumen.

Jajaran manajemen PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk

“Dengan survei misalnya. Kita bisa tahu profil lengkap calon nasabah. Mengumpulkan data, kan, enggak cuma dari media sosial seperti Facebook. Bisa saja di lapangan berbeda,” ungkapnya.

Meski demikian, Zacharia sepakat jika perusahaan harus go digital ke depannya. Untuk itu, anak usaha Maybank Indonesia ini melakukan pembaharuan IT Core System untuk mendukung pertumbuhan bisnis serta mendongkrak pembiayaan bersama mitra strategis dan channel-channel digital.

Pilot project

Direktur Operasional WOM Finance, Anthony Yuarez Panggabean menuturkan, core system adalah melayani kebutuhan konsumen melalui digitalisasi. Menurut dia, apabila perusahaan telah menerapkannya maka sistem akan menjadi terintegrasi.

Anthony juga mengungkapkan bila core system menentukan kualitas layanan bisnis perusahaan, di mana sedang dilakukan pilot project di tiga wilayah yaitu Jakarta termasuk kantor pusat, Depok dan Bekasi.

“Karena itu, pusat IT kita harus mapan, karena berdampak ke bisnis. Penjualan pun (sales) tentu akan bertambah. Sudah satu tahun lebih kami memodernisasi core system kami, kuartal I 2019 diharapkan pusat IT kita yang baru sudah berjalan,” kata Anthony.

Dikatakan sistem terintegrasi karena penggabungan mulai dari registrasi dan pengolahan kredit, eksekusi kredit, informasi pelanggan, serta akuntansi. Anthony juga menekankan kemampuan IT perseroan nantinya harus fleksibel dalam mendukung bisnis.

Perusahaan pembiayaan dengan kode emiten WOMF ini melakukan Penawaran Umum Berkelanjutan untuk Obligasi Berkelanjutan III Wom Finance Tahap I Tahun 2018. Instrumen ini ditawarkan dengan target sebanyak-banyaknya Rp800 miliar.

Penawaran ini merupakan bagian dari PUB Obligasi Berkelanjutan III Wom Finance yang akan diterbitkan dalam beberapa tahap dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp5 triliun.

Obligasi ini sendiri terdiri dari tiga seri, yakni Seri A, Seri B, dan Seri C. Seri A bertenor 370 hari dengan indikasi kupon sekitar 8,50 persen-9,25 persen.

Lalu, Seri B bertenor 2 tahun dengan indikasi kupon sekitar 9 persen-10 persen. Adapun Seri C bertenor 3 tahun dengan indikasi kupon sekitar 9,5 persen-10,5 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *