Natal dan Tahun Baru, Kenaikan Harga Pangan Berpotensi di 8 Daerah Ini

Ilustrasi sembako.
VIVA – Pemerintah telah memastikan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjelang Hari Raya Natal 2018 dan tahun baru beberapa hari mendatang bakal dapat terjaga. Lantaran, pasokan beberapa komoditas seperti beras, daging ayam, sapi, kerbau, maupun telur masih mencukupi.

Meski demikian, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahja Widjayanti mewaspadai, setidaknya ada delapan daerah yang bakal tetap mengalami kenaikan harga. Lantaran peningkatan permintaan akan terjadi.

“Misalnya ada delapan daerah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, NTT (Nusa Tenggara Timur), Maluku, Papua, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, itu yang potensi permintaan meningkat,” katanya saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Jumat 23 November 2018.

Meski mengalami peningkatan, Tjahja memastikan, tidak akan mengalami lonjakan besar karena ketersediaan pasokan komoditas bahan pangan masih cukup dan terjaga. 

“Tidak sampai dua kali lipat, tapi pasti ada peningkatan. Kemudian ada juga daerah yang volatilitas harganya cukup besar, misalnya di Pulau Jawa ini, misalnya Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tapi di luar itu tetap kami pantau sih,” tuturnya.

Hingga saat ini, harga-harga komoditas pangan dikatakannya masih stabil atau belum mengalami lonjakan permintaan yang besar dari masyarakat. Misalnya, harga beras saat ini baru naik 0,3 persen dibandingkan bulan lalu, atau naik sekitar sekitar Rp100-200 per kilogram.

“Beberapa hari ini sebenarnya masih cukup stabil, kecuali yang hortikultura, karena kadang terganggu musim.  Datanya masih stabil, kalau pun naik turun tapi masih stabil,” tegasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi sapi lokal tercatat sebanyak 35.845 ton, sedangkan kebutuhan daging sapi sebanyak 55.305 ton. Dan untuk kekurangan disediakan melalui impor sapi dan daging sebanyak 30.679 ton.

Dengan rincian, impor sapi bakalan sebanyak 18.217 ton (setara sapi 91.543 ekor), dan impor daging sapi dan kerbau sebanyak 12.462 ton (setara sapi 62.623 ekor).

Untuk ketersediaan dan kebutuhan daging ayam terdapat potensi surplus atau kelebihan produksi daging ayam tahun 2018 sebanyak 466.445 ton dengan rata-rata per bulan 38.870 ton. Juga untuk potensi ketersediaan dan proyeksi kebutuhan telur ayam ras, terdapat potensi surplus telur sebanyak 795.071 ton per tahun atau 66.256 ton per bulan.

Sementara untuk beras, berdasarkan data Badan Urusan Logistik atau Bulog, cadangan beras medium mencapai 1,2 juta ton sedangkan secara keseluruhan stok beras Bulog 2,7 juta ton. (mus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *